25.10.15

Di Desa, Kami Juga Bermusik!

Kisaran ’95-’97an, waktu itu lagi ngetop-ngetopnya genre ‘grunge‘ (=baca granch) atau Seattle's Sound dengan band-band seperti Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden, Alice In Chains, dan banyak lagi lainnya. Anak-anak muda di sekitar Tugu Payung mulai mengenal permainan gitar. Karena pada saat itu yang mempunyai dan bisa memainkan gitar baru satu orang, yaitu Hani Bandhot, maka kami belajar gitar pun secara bergiliran dibawah arahan Hani Bandhot

Lagu wajib yang dinyanyikan untuk latihan adalah lagu ‘Nothing Else Matter’nya Metallica, tidak utuh seluruh lagu, tapi cukup intronya saja.

Bisa memainkan dengan lancar intro lagu itu saja, wuih, senangnya sudah tidak ketulungan lagi. Keren, kalau menggunakan bahasa jaman sekarang.

Pada acara Agustus-an ada acara pentas seni di Balai Desa, anak-anak muda sekitar Tugu Payung (Hendri Cemplon, Kak Lulus, Yudi Peddex, Gayok, Iir Meong, Mbah Alim) ikut manggung, dengan memainkan musik yang bisa dikatakan sebagai ‘musik semi etnik’ dengan menggunakan alat-alat yang sederhana.

17an di Balai Desa Sulang, Rembang

Botol minuman sprite, sendok, garpu dan gitar. Ketika itu mereka memainkan lagu ‘Hio’nya Swami dan lagu dangdut ‘Sekuntum Mawar Merah’ yang sudah digubah syairnya menjadi bertema kemerdekaan, dan sebuah lagu barat judulnya Good Time Bad Time milik Eddy Brickell yang aransemen akhirnya dibuat menjadi dangdut dengan vokalis Kak Lulus dan Gayok. Itulah gairah awal dalam bermusik di sekitar Tugu Payung.

###

Sekitar ’96-an, Andhi yang kuliah di Semarang pulang dengan membawa ‘oleh-oleh’ sebuah gitar listrik, lalu setelah kumpul-kumpul dengan beberapa teman yang se-penderita-an, kami mulai latihan musik di rumahnya Pak Yon, bapaknya Kecik/ Alex yang merupakan seorang pemusik.

Ketika itu alat yang ada di rumah Kecik hanyalah gitar bolong, drum seadanya, bass, serta spiker dan amplinya, sedangkan untuk menggebuk drum kami menggunakan tiang bendera (yang biasanya untuk ditaruh di meja guru) yang kami peroleh dengan minta kepada Pak Achmad Anom. (Guru SD kami, matur nuwun, Pak). Dengan inisiatif sendiri, kami -lebih tepatnya, yang membuat adalah Yudi Peddex- juga membuat efek gitar. Ditambah gitar dari Andhi, lengkap sudah alasan untuk membentuk sebuah band.

Maka berdirilah Tupas (singkatan dari Tugu Payung dan Sekitarnya, ide nama dari Yudi Peddex) dengan personil sebagai berikut : Yudi Peddex (bass), Andhi (lead gitar), Yudhie Bercho (rhytm gitar/vokal), Hook (akustik gitar/vokal), Dilla Komplong (lead vokal), Alex/Kecik (drum) dan Benu (backing vokal/ merangkap sebagai kru).

Kami lalu mulai latihan dengan intens, menyanyikan lagu-lagu dari Boomerang, /Rif, Bunga, Netral, Red Hot Chilli Peppers, dan band-band lain yang ngetop pada saat itu, karena (untungnya) referensi musik kami lumayan lengkap untuk saat itu.

Yang kami ingat, tiap kali mau latihan harus gotongan alat dari rumah untuk dibawa ke rumahnya Alex, atau kadang Hook, dan pernah juga latihan di ‘Pendopo’ rumahnya Pak Jupriyanto (Ki Dhalang).

Oh ya, kadang-kadang pada waktu kami latihan, Pak Yon ikut nimbrung dengan menggunakan keyboardnya, yang ternyata tanpa kami sadari itu adalah sebagai bentuk dukungan dan bimbingannya terhadap gairah bermusik kami (matur nuwun, Pak). Terima kasih juga untuk warga sekitar rumah Alex yang telah merelakan telinganya dengan ikhlas untuk mendengarkan betapa berisiknya kami berlatih musik.

Pentas pertama kali tahun 1998, pada waktu ada acara perpisahan di SMA Sulang (waktu itu kepala sekolahnya Pak Kus). Dan layaknya sebuah band profesional, kami lalu merancang logo band dengan menggunakan program ‘paint’ di windows 98, dan membuat proposal untuk bisa tampil di acara tersebut dengan mengajukan anggaran sebesar RP 50.000 sebagai ganti biaya latihan, dan dikabulkan.

Pentas dimulai, membawakan lagunya /Rif, Boomerang, dan lagu-lagu lain. Dengan segala action yang kami bisa kami bergaya, karena difoto oleh Benu, akan tetapi (inilah kenangan yang tak terlupakan!), setelah hasil foto dicetak ternyata semua tidak ada gambarnya, alias kobong!.

Sejak itu, secara rutin kami manggung di acara 17-an di Balai Desa, dengan personel yang semakin menyusut seiring dengan kesibukan masing-masing (Hook gantung gitar, sedangkan Komplong gantung mik), jadilah tinggal kami berempat (Kecik, Peddex, Andhi, Bercho) yang melanjutkan perjalanan Tupas.


Kecik (Alex) in action.

Selain manggung di 17-an, pernah juga manggung di acara “Kemah Pembauran Tingkat Kabupaten Rembang” di Sulang tanggal 12 Agustus 2001, dengan featuring Tongkik di posisi vokal.

Dan akhirnya, (kembali) karena kesibukan masing-masing (Andhi kerja di Semarang, Kecik menjadi guru, Peddex berkutat dengan dunia IT-nya, Bercho kerja di Jepara), Tupas menjadi ‘tidur’ untuk sekian lama, dan sampai sekarang belum terdengar lagi kabar beritanya.

Dan mengenai kiprah personil Tupas di band-band lain, sudah pernah saya bahas di tulisan saya sebelumnya, baik yang berjudul Scene Musik di Sulang Rembang: 1990-2000an maupun Ada Apa Dengan Tupas?

——–

No comments:

Post a Comment