Showing posts with label deep purple. Show all posts
Showing posts with label deep purple. Show all posts

9.6.26

Rumah dan Selera Musik

 "Selera musikmu
Membuka kelambu telah membentuk
Oh padat telingaku."
— Kalibata 2012, Perunggu.


Barangkali selera musik memang tidak lahir begitu saja dari dalam diri. Sebelum kita merasa menemukan musik yang "gue banget", telinga kita sudah lebih dulu dipenuhi oleh suara-suara dari sekitar: dari rumah, televisi, radio, perjalanan di dalam mobil, atau dari orang-orang yang kebetulan hidup bersama kita.

Anak bungsu saya yang masih TK misalnya. Di mobil, playlist kami sering kali tidak jelas juntrungannya. Kadang Blitzkrieg Bop-nya Ramones, lalu melompat ke Yesterday Once More versi Redd Kross, lalu disambung Sayidan dari Shaggydog. Saya tidak pernah sengaja mengajarinya lagu-lagu itu. Tetapi beberapa hari kemudian, ia mulai ikut rengeng-rengeng potongan reff yang didengarnya. Tentu saja dengan pelafalan yang masih berantakan, tetapi nadanya sudah melekat.

Anak pertama saya juga kurang lebih berangkat dari hal yang sama. Beberapa waktu lalu kami menonton konser Dewa. Kalau dipikir-pikir, kedekatannya dengan lagu-lagu Dewa tidak datang secara tiba-tiba. Sejak kecil, lagu-lagu itu sudah sering terdengar di rumah, di televisi, di YouTube, atau di mobil saat kami bepergian. Lama-kelamaan, lagu-lagu itu menjadi bagian dari ingatannya. Ketika akhirnya kami berdiri bersama di tengah kerumunan penonton dan ikut menyanyikan lagu yang sama, saya merasa itu bukan sedang mengenalkan musik baru kepadanya. Kami hanya sedang mengunjungi sesuatu yang sudah lama tumbuh di dalam dirinya.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri: bukankah saya juga dibentuk dengan cara yang sama?

Waktu kecil, bapak sering memutar lagu-lagu Iwan Fals, Koes Plus, D'lloyd, The Mercy's, Bimbo, Deep Purple, sampai Queen dengan Freddie Mercury. Di lain waktu, om saya punya daftar putar yang berbeda: Ebiet G. Ade, Beegees, Carpenters, dan banyak nama lain yang waktu itu bahkan belum saya pahami. Saya tidak sedang belajar musik. Saya hanya hidup di rumah yang dipenuhi oleh musik.

Mungkin itu sebabnya saya menjadi pendengar yang tidak terlalu mempermasalahkan genre. Saya bisa menikmati lagu-lagu balada, pop, folk, musik lawas Indonesia, sampai rock. Walaupun kalau ditanya sekarang, saya mungkin lebih sering berlabuh pada musik-musik rock. Selera itu ternyata bukan dibentuk oleh satu album atau satu band, tetapi oleh begitu banyak suara yang menemani masa kecil.

Namun yang menarik, proses itu ternyata tidak berhenti pada orang tua yang mewariskan selera musik kepada anak-anaknya. Ada saat ketika anak-anak mulai menemukan dunianya sendiri, lalu gantian membentuk telinga orang tuanya.

Anak perempuan saya, misalnya, beberapa waktu terakhir sedang senang memutar K-pop di YouTube. Awalnya saya hanya mendengar sambil lalu. Sedikit demi sedikit nama-nama seperti Blackpink dan Red Velvet menjadi akrab di telinga. Sampai akhirnya saya menemukan band yang sangat saya sukai: Wave to Earth. Mungkin kalau bukan karena dia, saya tidak akan pernah mendengarkan musik mereka.

Hal yang sama juga terjadi dengan anak lanang. Dari dia saya berkenalan dengan band-band yang mungkin luput dari radar saya: Perunggu, Hindia, Reality Club, dan banyak nama lain. Mereka bukan sekadar memberi rekomendasi lagu. Tanpa sadar, mereka membuka pintu ke dunia musikal yang baru, persis seperti yang dulu dilakukan bapak dan om saya.

generated by chatgpt


Saya jadi merasa bahwa selera musik sebenarnya adalah percakapan panjang antargenerasi. Dulu, bapak mengisi telinga saya dengan Iwan Fals dan Deep Purple. Saya mengisi telinga anak-anak dengan Ramones, Dewa, atau Shaggydog. Lalu anak-anak saya, dengan caranya sendiri, memperkenalkan saya pada Perunggu, Wave to Earth, atau Reality Club. Tidak ada yang benar-benar menjadi guru atau murid. Kami hanya saling bertukar lagu.

Mungkin karena itulah saya suka tiga baris lirik Perunggu itu. "Selera musikmu... telah membentuk." Yang membentuk ternyata bukan hanya musiknya, melainkan orang-orang yang membawanya masuk ke dalam hidup kita. Bapak, om, anak-anak, teman, pasangan, bahkan perjalanan-perjalanan kecil di dalam mobil. Mereka semua, sedikit atau banyak, ikut mengisi dan memadatkan telinga kita.

Dan bisa jadi, bertahun-tahun lagi, anak bungsu saya tidak lagi ingat kapan pertama kali mendengar Blitzkrieg Bop atau Sayidan. Anak pertama saya mungkin lupa kapan lagu-lagu Dewa mulai terasa akrab. Sebagaimana saya juga tidak ingat kapan persisnya mulai menyukai Koes Plus atau Carpenters. Yang tersisa hanyalah perasaan bahwa lagu-lagu itu seperti sudah ada sejak lama, menjadi bagian dari rumah, dari keluarga, dari masa kecil.

Mungkin memang begitu cara musik bekerja. Ia tidak selalu diwariskan lewat cerita atau nasihat. Kadang cukup diputar berulang-ulang, terdengar sepintas dari ruang sebelah, atau menemani perjalanan pulang. Lalu suatu hari kita sadar, ternyata bukan hanya kita yang memilih musik. Musik—melalui orang-orang di sekitar kita—diam-diam juga ikut memilih dan membentuk kita.

25.10.15

Masih Ada (Musik) Rock di Panggung

Mereka aja (yang) sudah berumur berani tampil di panggung,  kok kamu tidak?!
—————

Hari Sabtu, 24 Oktober 2015. Sinar matahari masih cukup panas, meski sudah jam 4 sore.

Setelah mengantar anak sulung ke sekolah, saya tidak langsung pulang, tapi mampir dulu ke lapangan Kenari. Di situ ada acara Pesta Rakyat Simpedes yang diadakan oleh sebuah bank pemerintah. Acara sudah dimulai sejak pagi tadi. Ada berbagai macam acara, dari pameran UMKM sampai lomba-lomba, di antaranya adalah lomba burung berkicau dan asah akik.

Niat awal saya datang adalah untuk melihat lomba asah akik, juga melihat stand akik. Namun apa daya, ternyata lombanya sudah selesai.

Hanya, ketika saya datang di panggung sedang tampil sebuah band yang mayoritas pemainnya berpakaian warna hitam dengan dibantu dua orang backing vokal perempuan, sedang tampil membawakan “Smoke On The Water”-nya Deep Purple. Dan, saya gak jadi kecewa! Langsung saja saya stay, menonton dan menikmati penampilan band itu.

Memasuki tengah lagu kedua, “Hongky Tonk Woman”-nya Rolling Stones, saya sempat bergegas pulang menjemput anak bungsu dan istri, dengan niatan untuk mengajak mereka nonton juga.

Alhamdulillah, sekembalinya saya ke lapangan band itu masih main, kali ini mereka bawakan lagu “Highway Star”-nya Deep Purple. Tebakan saya, band ini adalah semacam sekumpulan manusia yang suka dengan segala hal berbau klasik rock. Btw, asyik juga, membantu mengobati rasa rindu saya pada lagu-lagu era itu.

Selesai lagu itu, band kemudian berkemas karena harus berbagi stage dengan band lain. Dari si MC saya tahu, band yang nyanyiin lagu-lagu klasik rock tadi itu bernama The Kemisan.

Kelar The Kemisan, tampil band berikutnya yang bernama The Gentleman. Kali ini pemainnya berusia lebih muda dari The Kemisan, dan berpakaian necis, bahkan ada yang memakai dasi kupu-kupu. Mereka tampil membawakan lagu-lagu dari Sheila On 7, yaitu Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki, J.A.P, Melompat Lebih Tinggi dan Pejantan Tangguh. Yang menjadi catatan saya, sepertinya mereka masih perlu menambah jam terbang. Saya merasa ada beberapa part yang mereka mainkan masih tidak cukup rapi.

Jam 5 sore kurang 10 menit, saya minta tolong agar istri menjemput anak dari sekolah sore untuk dibawa langsung ke lapangan.

Setelah The Gentleman turun dari panggung, band berikutnya yang tampil adalah Nothing, yang beraliran emo. Mereka membawakan lagu berjudul “Jiwa” dari Alone At Last, dan dua lagu ciptaan sendiri berjudul “Bangkit” dan “Sebatas Mimpi”. Dibandingkan The Gentleman,  Nothing tampil lebih baik dan rapi.

Lalu istri datang bersama anak sulung, ketika itu di panggung sedang tampil Black Flash dari Kudus yang sedang memainkan “One”-nya Metallica, setelah sebelumnya juga memainkan lagu Metallica yang lain yang berjudul “Enter Sandman”.

Kelar “One”, Black Flash memainkan “Whenever I May Roam” juga punya Metallica dari album Black. Karena saya cukup kenal dengan lagu-lagu yang Black Flash mainkan, jadilah saya ikut sedikit-sedikit sing along selama mereka tampil.

Lalu tiba-tiba ada yang berbisik di telinga saya, “Mereka aja (yang)  sudah berumur berani tampil di panggung, kok kamu tidak?!”. Saya nengok ke istri saya sambil nyengir.

Menjelang maghrib, Black Flash memainkan satu lagu ciptaan mereka sendiri yang berjudul “Sepi”, yang ternyata cukup asyik didengarkan. Good Job!

Selesai acara, saya sempat browsing soal Black Flash, dan akhirnya saya nemu akun vokalisnya di media sosial. Kepadanya saya sampaikan apresiasi saya atas penampilan mereka tadi, dan saya sampaikan sedikit uneg-uneg saya soal gayanya.

Saya bilang, “Mainnya Metallica kok gayanya pakai gaya Axl Rose”.
Jawabnya, “Kolaborasi, bro. Vokalisnya Metallica kan bawa gitar, kalo aku tidak. Daripada gak ada gaya.

Itu sedikit catatan yang saya buat atas impresi yang saya tangkap pada even tersebut. Percayalah, masih ada (musik) rock di panggung.

——