21.5.26

Ketika Namamu Disebut

 

“Manusia ada terlebih dahulu, lalu membentuk makna dirinya sendiri.”
Jean-Paul Sartre

Pada masanya, siaran radio mencapai puncak keemasan. Setiap radio memiliki acara dengan segmen pendengar masing-masing. Ada acara nostalgia yang memutar lagu-lagu lama untuk para pendengar yang ingin kembali ke masa lalu, ada juga program khusus anak-anak muda dengan musik yang lebih keras dan liar.

Radio tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga ruang pertemuan. Pendengar dapat mengirim salam, atensi, atau request lagu sebagai bentuk timbal balik antara suara di studio dan orang-orang di luar sana.

Di kisaran tahun 90-an, di kampung kami terbentuk kelompok anak-anak muda sepermainan. Kami menamainya Gangster Metallian Clans, biasa disingkat Gangster. Kampung lain juga punya kelompok serupa: ada Genk Dog dan nama-nama lain yang kini mungkin tinggal menjadi gema kecil di ingatan.

Kami sering berkumpul malam hari sambil mendengarkan Radio PST Pati, terutama acara musik rock dan metal yang mengudara sekitar dua jam setiap malamnya. Dari situlah kami mengenal banyak lagu dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada kampung kecil kami sendiri.

Karena waktu itu belum ada WA atau media sosial, kami mengirim atensi memakai kartu pos. Kami merequest lagu-lagu seperti “Ikuti” dari Edane atau “Lepas Kendali” dari Jet Liar.

Namun ternyata, yang paling kami tunggu bukan hanya lagu diputar.

Kami juga menuliskan nama kelompok kami. Lalu satu per satu nama anggota:
Genter, Payman, Mink, Bongod, Andhix, Komplong, Muis, Buto, dan Gayok.

Dan ketika penyiar menyebut nama-nama itu di udara, entah kenapa rasanya membanggakan. Bukan karena ingin terlihat hebat, tetapi karena ada rasa senang yang sulit dijelaskan—seolah keberadaan kami benar-benar diakui.

Lebih menyenangkan lagi ketika kami berjalan melewati kampung lain, lalu ada orang yang menyebut nama kelompok kami. Dari sebuah kartu pos dan gelombang radio, nama itu menjalar menjadi percakapan kecil di jalanan.

Mungkin sejak dulu manusia memang punya naluri meninggalkan jejak. Bedanya, dulu kami memakai kartu pos dan gelombang radio. Hari ini orang memakai story, komentar, dan notifikasi.

Pada akhirnya, cara manusia berubah mengikuti zaman. Tetapi keinginannya tetap sama:
ingin didengar,
ingin dikenali,
dan sesekali merasa bahwa dirinya pernah ada.

 

chatgpt

 

17.5.26

Rindu Ini Seperti Dendam yang Dibayar Lunas


Sabtu, 16 Mei 2026, saya mengajak istri dan anak lanang pergi menonton konser bertajuk Steril 2026. Line up-nya membuat saya tertarik: Fayara, Tenggara, Barasuara, Sal Priadi, Tulus, dan penampil utama Dewa 19 feat Virzha, Ari Lasso, serta Marcello Tahitoe.

Sebenarnya, keputusan membeli tiket konser ini bukan semata karena line up-nya. Ada cerita lama yang belum selesai.

Tahun lalu saya sempat membeli tiket konser Dewa 19 di Jepara. Rencana sudah disusun, antusiasme sudah dibangun, tapi acara itu gagal terlaksana karena ketidaksiapan promotor. Bahkan sampai hari ini uang tiketnya pun belum direfund. Awalnya kesal, tentu saja. Tapi lama-lama rasa kecewanya berubah jadi semacam “ya sudah”. Kadang yang lebih sulit hilang bukan uangnya, melainkan harapan yang telanjur dibangun jauh-jauh hari.

Karena itu, saat membeli tiket Steril 2026, ada sedikit rasa waswas. Jangan-jangan nanti berakhir sama seperti sebelumnya. Saya sempat mencari berbagai informasi tentang acara ini di internet, membaca komentar orang-orang, melihat dokumentasi event sebelumnya, dan mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahkan istri dan teman yang tahu cerita pada tahun lalu sempat bertanya "Kamu gak takut kejadiannya terulang? Kamu gak trauma?"

Dan untungnya, kali ini kami benar-benar sampai di konser itu. Meski begitu, perjalanan menuju venue ternyata tidak semulus bayangan. Jalan mulai padat sejak sore. Area parkir penuh. Kendaraan berjalan pelan seperti antrean yang tidak ada ujungnya. Kami datang sedikit terlambat, dan ketika berjalan dari area parkir menuju venue, suara Barasuara sudah terdengar dari kejauhan.

Sayangnya, kami hanya sempat mendengar lagu terakhir mereka, "Terbuang dalam Waktu".
Anak lanang langsung berkomentar pendek dengan nada kecewa, “Padahal aku pengen nonton Barasuara.

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat saya merasa bersalah kecil sebagai bapak yang gagal menghitung macet dengan benar. Ya, Perjalanan yang saya kira hanya memakan waktu sekitar satu jam ternyata molor jauh dari perkiraan. 

Meski begitu, suasana konser perlahan membayar semuanya. Lampu-lampu panggung mulai terasa dekat. Orang-orang berjalan sambil bernyanyi. Ada yang duduk lesehan, ada yang sibuk merekam video, ada juga yang hanya menikmati suasana sambil membawa minuman dan tertawa bersama teman-temannya.


Penampilan Sal Priadi menjadi semacam obat dari kekecewaan kecil karena tertinggal Barasuara. Banyak lagu yang terasa familiar di telinga karena memang sering diputar saat perjalanan naik mobil bersama keluarga. Ada lagu-lagu yang awalnya terdengar biasa saja, sampai akhirnya sadar bahwa lagu itu diam-diam sudah menjadi soundtrack perjalanan pulang, perjalanan liburan, atau sekadar perjalanan mencari makan malam.

Saat Tulus tampil, jujur saja, saya cuma benar-benar hafal dua lagu: “Monokrom” dan “Hati-Hati di Jalan”. Selebihnya saya lebih banyak bengong sambil menikmati suasana. Sesekali melihat lautan manusia ikut bernyanyi bersama. Sesekali memperhatikan lampu-lampu ponsel yang menyala dari berbagai arah. Rasanya tenang, walau di tengah keramaian.


Dan puncak malam itu akhirnya datang ketika Dewa 19 naik ke atas panggung. Seolah membayar lunas hutang yang muncul tahun lalu.

Lucunya, anak lanang yang notabene Gen Z ternyata cukup hafal lagu-lagunya. Mungkin karena sejak kecil memang terbiasa mendengar lagu-lagu Dewa diputar di mobil atau dari video-video YouTube yang entah diputar ulang sudah berapa kali. 


Bernyanyi bersama istri dan anak di tengah ribuan orang asing.
Ada perasaan aneh ketika menyadari bahwa lagu-lagu yang dulu saya dengarkan sendirian, sekarang justru dinyanyikan bersama keluarga kecil saya sendiri. Seolah musik memang punya caranya sendiri untuk melampaui umur. Lagu-lagu yang dirilis jauh sebelum anak saya dilahirkan, ternyata ikut menjadi soundtrack perjalanan hidup kami.

Banyak yang belakangan mengeluhkan crowd yang terlalu padat ketika pulang, area parkir yang jauh, dan antrean kendaraan yang melelahkan. Itu semua bisa menjadi masukan buat promotor untuk acara berikutnya. Tapi buat saya pribadi, konser memang seperti itu. Capeknya justru bagian dari pengalaman. Jalan jauh menuju venue, berdesakan saat keluar area acara, suara bising, kaki pegal—semuanya terasa normal-normal saja.

Malam itu suara habis dipakai teriak. Besok paginya kaki mulai terasa pegal. Badan juga tidak seprima dulu. Usia memang tidak bisa dibohongi. Tapi anehnya, sepanjang perjalanan pulang saya tetap tersenyum sendiri. Seperti judul lagu Hadapi dengan Senyuman—walaupun malam itu tidak dibawakan.

Mungkin beberapa rindu memang harus dibayar lunas dengan cara seperti itu.




9.10.23

ShyShine Band (Cuma Latihan)

 Anggota sementara:

- Akrom, Vok∆l
- Inunk, Vok∆l
- Yudhie, Gitr & Vokl (kadang B∆s)
- Chandra, Gitr & Vokl (kadang B∆s)
- Hidayat, Bs & Keybord (kadang Dr∆m)
- Irsa, Drm (pernah Git∆r)

Cuma Latihan









27.7.23

Perkenalan Dengan Dream Theater

Perkenalan saya dengan Dream Theater awalnya sungguh biasa saja. Adik saya Andy yang seorang gitaris, sering memainkan lagu "Another Day" dari album Images and Words-nya Dream Theater. Jadi secara tidak langsung saya sering tanpa sengaja ikut mendengarkan, tapi masih dengan kesan biasa saja, karena menurut saya kadar popnya masih cukup banyak. Mungkin memang tidak cukup hanya dengan mendengar satu lagu saja, untuk memberi penilaian.

Baru setelah saya mendengar secara penuh satu album Dream Theater "Metropolis Pt 2: Scenes From A Memory", saya merasa terpesona dengan permainan mereka dari awal sampai akhir album. Dengan susunan lagu yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai sebuah naskah cerita, menjadi seperti sedang membaca buku atau menonton film. 

Sejak saat itulah saya mulai mencoba untuk mengoleksi kaset-kaset album Dream Theater, dari album-album sebelum Images and Words sampai setelah-setelahnya. Pencarian album dalam bentuk kaset saya lakukan di toko-toko kaset dan cd yang waktu itu masih cukup banyak, baik toko kaset baru maupun lapak-lapak kaset bekas. 

Ketika pergi ke suatu kota, saya akan dengan sengaja berjalan-jalan mencari informasi di mana ada toko atau lapak yang menjual kaset. Misal Johar, Citraland atau Buletin Musik di Semarang, atau di toko Harapan Musik dan lapak kaset bekas di pasar Legi dan depan Optik Melawai di Solo. 

Sewaktu tinggal di Solo untuk sementara waktu, saya merasakan betapa sulitnya mencari album Dream Theater yang berjudul "Awake" dengan maksud untuk menggenapi koleksi. Karena sulitnya mencari album tersebut, saya sempat merekam cd mp3 album Awake ke dalam bentuk kaset pita. Walaupun pada akhirnya saya bisa memperoleh kaset Awake di toko onlen dengan harga yang cukup lumayan, itupun butuh waktu lama, jauh sekali rentang waktu yang diperlukan hingga bisa memperolehnya.





23.7.23

Rotor : Pluit Phobia [1992]

PRIIIIIIITTTTT

Spoken:

"Selamat siang, Dik!"

"Siang, Pak"

"Bisa lihat surat-suratnya?"

"Wah… nggak bawa, Pak"

"Anda kami tilang!"


Pada tahun 1993

Polisi serasa Izrail

Saat berlaku UU LLAJR

Siapkan ratusan ribu

Bangkrut!


Langgar peraturan

Alpa surat-surat

Hanya dua pilihan

Jutaan atau penjara


Mungkin buat si kaya tak t’rasa

Mungkin rakyat makin disiplin

Tapi si miskin makin melarat

Atau aparat makin korupsi


Mereka kecewa…

Mereka protes…

Terhadap undang-undang…

Kurang pertimbangan…


Apa yang akan terjadi?

Trauma sepanjang jalan

Akan timbul penyakit baru

Bagi rakyat Indonesia…Pluitphobia


Album Behind The 8th Ball
I.R.S Gitar, Vokal
Bakar Drum
Juda Bas