“Manusia ada terlebih dahulu, lalu membentuk makna dirinya sendiri.”
— Jean-Paul Sartre
Pada masanya, siaran radio mencapai puncak keemasan. Setiap radio memiliki acara dengan segmen pendengar masing-masing. Ada acara nostalgia yang memutar lagu-lagu lama untuk para pendengar yang ingin kembali ke masa lalu, ada juga program khusus anak-anak muda dengan musik yang lebih keras dan liar.
Radio tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga ruang pertemuan. Pendengar dapat mengirim salam, atensi, atau request lagu sebagai bentuk timbal balik antara suara di studio dan orang-orang di luar sana.
Di kisaran tahun 90-an, di kampung kami terbentuk kelompok anak-anak muda sepermainan. Kami menamainya Gangster Metallian Clans, biasa disingkat Gangster. Kampung lain juga punya kelompok serupa: ada Genk Dog dan nama-nama lain yang kini mungkin tinggal menjadi gema kecil di ingatan.
Kami sering berkumpul malam hari sambil mendengarkan Radio PST Pati, terutama acara musik rock dan metal yang mengudara sekitar dua jam setiap malamnya. Dari situlah kami mengenal banyak lagu dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada kampung kecil kami sendiri.
Karena waktu itu belum ada WA atau media sosial, kami mengirim atensi memakai kartu pos. Kami merequest lagu-lagu seperti “Ikuti” dari Edane atau “Lepas Kendali” dari Jet Liar.
Namun ternyata, yang paling kami tunggu bukan hanya lagu diputar.
Kami juga menuliskan nama kelompok kami. Lalu satu per satu nama anggota:
Genter, Payman, Mink, Bongod, Andhix, Komplong, Muis, Buto, dan Gayok.
Dan ketika penyiar menyebut nama-nama itu di udara, entah kenapa rasanya membanggakan. Bukan karena ingin terlihat hebat, tetapi karena ada rasa senang yang sulit dijelaskan—seolah keberadaan kami benar-benar diakui.
Lebih menyenangkan lagi ketika kami berjalan melewati kampung lain, lalu ada orang yang menyebut nama kelompok kami. Dari sebuah kartu pos dan gelombang radio, nama itu menjalar menjadi percakapan kecil di jalanan.
Mungkin sejak dulu manusia memang punya naluri meninggalkan jejak. Bedanya, dulu kami memakai kartu pos dan gelombang radio. Hari ini orang memakai story, komentar, dan notifikasi.
Pada akhirnya, cara manusia berubah mengikuti zaman. Tetapi keinginannya tetap sama:
ingin didengar,
ingin dikenali,
dan sesekali merasa bahwa dirinya pernah ada.
![]() |
| chatgpt |







.jpg)