Disclaimer kecil sebelum mulai: tulisan ini bukan review album. Saya tidak akan membahas struktur lagu, kualitas produksi, atau memberi penilaian angka. Ini hanya catatan seorang pendengar yang kebetulan nyasar ke Fstvlst, sempat lupa, lalu tanpa sadar ikut mengumpulkan jejak-jejak yang mereka tinggalkan.
Perkenalan saya dengan Fstvlst juga tidak istimewa. Bukan karena rekomendasi teman, bukan pula karena sengaja mencari. Mereka muncul begitu saja di linimasa YouTube. Saya iseng mendengarkan beberapa lagunya dan merasa cocok. Tapi setelah itu ya sudah. Saya lupa. Bahkan untuk beberapa waktu saya masih sering tertukar antara Fstvlst dan .Feast.
Barangkali memang ada musik yang tidak meminta kita untuk langsung jatuh cinta. Ia hanya lewat sebentar, lalu diam-diam menunggu kita kembali.
Sampai suatu waktu saya kembali mendengarkannya. Kali ini lebih serius. Dan entah kenapa, saya memutuskan membeli album II. Dari situlah semuanya berjalan mundur. Saya mulai mencari tahu siapa sebenarnya Fstvlst. Ternyata sebelum bernama Fstvlst, mereka ada keterkaitan dengan band bernama Jenny.
Sejak itu, saya seperti sedang mengurai sebuah silsilah. Saya menemukan blognya Jenny dan membacanya satu per satu, seperti membuka arsip lama. Saya preorder kaset pita Jenny. Saya membeli CD Hits Kitsch. Saya juga sempat ikut berburu kaset pita Hits Kitsch, sebelum akhirnya memilih mundur teratur karena harga yang ditawarkan sudah tidak lagi masuk akal. Terakhir saya melihat ada yang membanderolnya hingga enam juta rupiah.
Lucunya, saya tidak merasa sedang mengoleksi benda. Rasanya lebih seperti mengumpulkan potongan cerita yang tercecer di berbagai tempat. Sebab makin jauh menggali, makin terasa bahwa perjalanan Fstvlst bukanlah rangkaian album yang berdiri sendiri-sendiri. Ada semacam benang yang menghubungkan semuanya, dari masa Jenny sampai hari ini.
Karena itu, ketika album terbaru mereka dirilis terbatas dalam rangka Record Store Day 2026, saya tahu cerita lama akan berulang. Saya tidak mendapatkannya di harga rilis. Album itu akhirnya saya peroleh setelah harganya hampir dua kali lipat dari harga awal. Sebuah ironi kecil yang mungkin sudah biasa dalam dunia rilisan fisik: semakin terbatas jumlahnya, semakin mahal pula kenangan yang harus ditebus.
Yang membuat saya semakin tertarik justru bukan soal kelangkaan itu, melainkan bagaimana album terbaru ini terasa seperti mengajak pendengarnya menoleh ke belakang. Di beberapa lagu ada sampel dari karya-karya sebelumnya. Ada potongan lirik yang seperti berbicara dengan lirik di album lain. Ada kesan bahwa lagu-lagu mereka tidak pernah benar-benar selesai, melainkan saling menyambung dan membentuk percakapan yang panjang.
Mungkin karena itulah saya merasa perjalanan Fstvlst tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Jenny, seperti pergantian bab dalam novel yang sama. Beberapa tokohnya berubah, beberapa cara bertuturnya bergeser, tetapi jejak-jejak yang ditinggalkan di halaman-halaman sebelumnya tetap ada dan sesekali muncul kembali untuk menyapa pembaca yang mau membuka arsipnya.
Dan mungkin memang begitu cara saya menikmati Fstvlst. Bukan sebagai pendengar yang mengikuti semuanya sejak awal, melainkan sebagai orang yang datang belakangan, menemukan satu keping cerita, lalu berjalan mundur untuk mencari potongan-potongan yang lain. Dari YouTube yang muncul tanpa sengaja, salah mengira Fstvlst dengan .Feast, membeli II, menemukan Jenny, membaca blog lama mereka, berburu CD dan kaset pita, hingga akhirnya sampai di album terbaru ini.
Jadi sekali lagi, ini bukan review album. Ini cuma catatan kecil tentang bagaimana sebuah band, yang awalnya hanya lewat di linimasa, pelan-pelan mengubah seorang pendengarnya menjadi pencari jejak. Dan barangkali, bagi sebagian orang, itu juga salah satu cara menikmati musik: bukan sekadar mendengar apa yang dimainkan hari ini, tetapi ikut menelusuri gema yang mereka tinggalkan sejak dulu.




