Showing posts with label All Eyes On Karhutla. Show all posts
Showing posts with label All Eyes On Karhutla. Show all posts

1.11.26

Memori Baik Gila-Gilaan

 


 

"Gila-gilaan bersama teman-teman

  Gila-gilaan di akhir pekan

  Gila-gilaan sambil jalan-jalan"

  ~Gila-gilaan. The Changcuters.


Sabtu malam, 31 Oktober 2026 menjadi malam yang diisi dengan hangout bersama istri, anak lanang dan adik perempuanku beserta suaminya.


Di Lanumad Ahmad Yani Semarang, kami berangkat menonton Liveproject 2026. Meski sebelum berangkat pikiran sempat diganggu dengan ungkapan kekecewaan para penonton acara yang sama di tahun sebelumnya yang bersliweran di media sosial. Tapi hasrat untuk melihat langsung band yang menemani masa muda saya dan istri tidak menyurutkan niat untuk hadir.


Sesampai di venue, sudah ada penampilan yang terlewat yaitu dari GME band asal Semarang yang banyak orang bilang lagu-lagunya setipe dengan Sheila On 7, kami pun hanya sempat mendengar 2 lagu terakhir dari Lomba Sihir, tapi dari suara yang terdengar di telinga tidak ada Bhaskara (Hindia) di sana, namun kami sempat melihat visualisasi Lomba Sihir yang menyuarakan berbagai persoalan di negara ini.

 

Kami bisa sepenuhnya menikmati acara mulai dari penampilan Kunto Aji meski hanya beberapa lagu yang dimengerti, seperti Rehat dan Masih Asik Sendiri. 


"Tenangkan hati

  Semua ini bukan salahmu

  Jangan berhenti

  Yang kau takutkan takkan terjadi"

  ~Rehat. Kunto Aji.


Setelah break Maghrib dan Isya', penampilan berikutnya adalah Mahalini. Audiens mulai antusias dan ramai. Area depan stage yang tadinya banyak ruang, berangsur mulai padat dan penuh. Banyak diantara mereka yang ikut bernyanyi dan berteriak, meski gerimis mulai sedikit datang. Penampilan Mahalini juga dihiasi dengan visualisasi yang menyuarakan kepedulian terhadap keadaan negara saat ini. Lagi-lagi saya tidak ikut bernyanyi, saya hanya bisa menikmati mendengar lagu-lagunya.


"Memori Baik"


Akhirnya jam 19.50 WIB Sheila On 7 tampil di stage. Bisa dibayangkan bagaimana suasana di crowd. Perpaduan berbagai generasi ada di lokasi. Tidak sedikit generasi yang lahir di era 70an sampai 2000an ada di situ. Sesaat sebelum MC memanggil SO7 untuk tampil, mereka menghampiri salah satu penonton yang lahir tahun 2015 yang mempunyai lagu kesukaan Pemuja Rahasia dan mengatakan kenal SO7 dari ibunya. Ternyata perjalanan band melintasi generasi bisa dilewatkan dengan cara yang sederhana. Apalagi bisa langsung merasakan langsung ritual intro lagu itu, "Kanan kanan, kiri kiri. Kanan kanan, kiri kiri" sambil menggoyangkan tangan.


Lagu-lagu dari mulai awal perjalanan SO7 sampai saat ini dikumandangkan, seperti Radio, JAP, Kita, Hari Bersamanya, Seberapa Pantas, Sephia, Pria Kesepian, Saat Lanjut Usia (medley-Anugerah Terindah), Bila Kau Tak Disampingku, Melompat Lebih Tinggi, Memori Baik, Lapang Dada, Film Favorit, Sebuah Kisah Klasik, Pemuja Rahasia, Dan hingga lagu baru berjudul Sederhana dilantukan SO7 selama kurang lebih 100 menit penampilannya. 


Setlist yang memanjakan telinga tapi menyiksa boyok dan lutut kami para remaja vintage ini. Sungguh bikin ngos-ngosan!


Sebelum SO7 mulai, saya sempat menawarkan hape saya ke istri buat merekam momen-momen, karena batre hape istri sudah habis. Dan benar, di beberapa lagu kesukaannya dia pinjam hape saya buat merekamnya.


Anak lanang saya yang lahir tahun 2010 bahkan ikut bersenang-senang dan sing along lagu-lagu SO7.  Apalagi pas lagu Melompat Lebih Tinggi, lagu yang ada di sebuah album soundtrack film yang pertama kali saya peroleh dari honor menulis puisi di sebuah buletin dan ternyata istri saya juga mengoleksi kaset pitanya, anak lanang ikut sing along dan lompat-lompat. Semoga ini bisa menjadi memori baik dan kisah klasik masa depan buatnya.


Setelah penampilan SO7 selesai, suasana diademkan dengam lagu-lagu romantis dari Afgan. Waktu Afgan tampil, jujur saja mulut kadang masih ikut melantunkan beberapa hitsnya seperti Terima Kasih Cnta dan Bukan Cinta Biasa, tapi saya dan istri memilih untuk duduk menyelonjorkan kaki dan mengistirahatkan boyok. Melihat hal ini, anak lanang berbisik dengan nada mengejek "Papah istirahat ini karena menghemat tenaga buat jingkrak-jingkrak nanti?"


Ada hal lain yang membuat saya tersenyum. Ketika istri bertanya kepada anak lanang, dari mana ia mengenal band-band Indonesia, jawabannya sederhana, 'Aku kenal band-band Indonesia dari Papah.'


Tanpa pernah merasa sedang mengajari, selama ini saya telah memperkenalkan sebagian dunia musik saya kepadanya. Dan malam itu, kami berdiri di depan panggung yang sama, menyanyikan lagu-lagu yang sama, meski datang dari generasi yang berbeda.


Liveproject 2026 ditutup oleh penampilan The Changcuters, yang ketika rundown diumumkan oleh penyelenggara dimaksudkan untuk memecah konsentrasi massa yang mungkin diperkirakan sebagian akan pulang setelah SO7 tampil. Memang di depan stage jumlah penonton sudah berkurang dibandingkan ketika SO7 tampil. Tapi tidak mengurangi antusiasme penonton.


Setlist yang dinyanyikan The Changcuters juga setlist yang bukan main menguras tenaga. Bagaimana boyok dan lutut ini digempur dengan lagu-lagu I Love U Bibeh, Suka-Suka, Gila-Gilaan, Main Serong, Parampampam hingga Hijrah Ke London, sementara yang agak selow adalah lagu baru mereka berjudul Ruang Riang, bahkan sewaktu Ruang Riang anak saya ikut sing along walaupun saya tahu kalau dia baru mendengar lagunya beberapa kali.


Penampilan The Changcuters sungguh-sungguh menarik dan memanaskan crowd dengan interaksi dari Tria sang vokalis kepada seluruh penonton, hingga anak lanang ikut jingkrak-jingkrak juga seperti bapaknya juga om dan tantenya.


Bahkan Tria sempat menanyakan apakah lutut para penonton masih baik-baik saja. Pertanyaan yang langsung terasa personal. Rupanya bukan hanya kami yang menyadari bahwa menikmati musik dengan jingkrak-jingkrak membutuhkan persiapan fisik tersendiri. Coba kalian bayangkan bagaimana bapak-bapak dengan berat badan 90 kg harus jongkok untuk kemudian melompat gila-gilaan?


Ketika Hijrah ke London dimainkan, rasanya sulit untuk tidak ikut larut. Bagaimana tidak, lagu itu memang salah satu favorit saya. Rupanya ada beberapa hal yang tidak bisa dikalahkan oleh usia, termasuk keinginan untuk jingkrak-jingkrak ketika lagu kesukaan dimainkan.


Sebagai pendengar musik sekaligus pengoleksi kaset pita, selera saya biasanya lebih banyak berkutat pada band-band era 90-an. Ketika The Changcuters hadir, kebetulan saya sedang memasuki masa vakum membeli kaset dan mengikuti perkembangan band-band baru. Sampai kemudian adik perempuan saya memperkenalkan band ini dengan perspektif yang berbeda. 


Awalnya rencana menonton konser ini hanya bertiga: saya, istri, dan anak lanang. Sampai kemudian saya mengajak adik perempuan saya. Sempat ragu ketika diajak, tetapi begitu saya menyebut The Changcuters, semangatnya langsung berubah. Rupanya ada alasan tersendiri baginya untuk datang malam itu.


Barusan saya ingat, ternyata The Changcuters pernah menjadi panutan gaya rambut adik perempuan saya di masa mudanya. []


"Terbang melayang

  Bersama lima bintang

  Bernyanyi dengan riang

  Menari dan berdendang"

  ~Ruang Riang, The Changcuters.