15.6.26

Mendengarkan Fstvlst dari Belakang


                  
 

Disclaimer kecil sebelum mulai: tulisan ini bukan review album. Saya tidak akan membahas struktur lagu, kualitas produksi, atau memberi penilaian angka. Ini hanya catatan seorang pendengar yang kebetulan nyasar ke Fstvlst, sempat lupa, lalu tanpa sadar ikut mengumpulkan jejak-jejak yang mereka tinggalkan.

Perkenalan saya dengan Fstvlst juga tidak istimewa. Bukan karena rekomendasi teman, bukan pula karena sengaja mencari. Mereka muncul begitu saja di linimasa YouTube. Saya iseng mendengarkan beberapa lagunya dan merasa cocok. Tapi setelah itu ya sudah. Saya lupa. Bahkan untuk beberapa waktu saya masih sering tertukar antara Fstvlst dan .Feast.

Barangkali memang ada musik yang tidak meminta kita untuk langsung jatuh cinta. Ia hanya lewat sebentar, lalu diam-diam menunggu kita kembali.

Sampai suatu waktu saya kembali mendengarkannya. Kali ini lebih serius. Dan entah kenapa, saya memutuskan membeli album II. Dari situlah semuanya berjalan mundur. Saya mulai mencari tahu siapa sebenarnya Fstvlst. Ternyata sebelum bernama Fstvlst, mereka ada keterkaitan dengan band bernama Jenny.

Sejak itu, saya seperti sedang mengurai sebuah silsilah. Saya menemukan blognya Jenny dan membacanya satu per satu, seperti membuka arsip lama. Saya preorder kaset pita Jenny. Saya membeli CD Hits Kitsch. Saya juga sempat ikut berburu kaset pita Hits Kitsch, sebelum akhirnya memilih mundur teratur karena harga yang ditawarkan sudah tidak lagi masuk akal. Terakhir saya melihat ada yang membanderolnya hingga enam juta rupiah.

Lucunya, saya tidak merasa sedang mengoleksi benda. Rasanya lebih seperti mengumpulkan potongan cerita yang tercecer di berbagai tempat. Sebab makin jauh menggali, makin terasa bahwa perjalanan Fstvlst bukanlah rangkaian album yang berdiri sendiri-sendiri. Ada semacam benang yang menghubungkan semuanya, dari masa Jenny sampai hari ini.

Karena itu, ketika album terbaru mereka dirilis terbatas dalam rangka Record Store Day 2026, saya tahu cerita lama akan berulang. Saya tidak mendapatkannya di harga rilis. Album itu akhirnya saya peroleh setelah harganya hampir dua kali lipat dari harga awal. Sebuah ironi kecil yang mungkin sudah biasa dalam dunia rilisan fisik: semakin terbatas jumlahnya, semakin mahal pula kenangan yang harus ditebus.

Yang membuat saya semakin tertarik justru bukan soal kelangkaan itu, melainkan bagaimana album terbaru ini terasa seperti mengajak pendengarnya menoleh ke belakang. Di beberapa lagu ada sampel dari karya-karya sebelumnya. Ada potongan lirik yang seperti berbicara dengan lirik di album lain. Ada kesan bahwa lagu-lagu mereka tidak pernah benar-benar selesai, melainkan saling menyambung dan membentuk percakapan yang panjang.

Mungkin karena itulah saya merasa perjalanan Fstvlst tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Jenny, seperti pergantian bab dalam novel yang sama. Beberapa tokohnya berubah, beberapa cara bertuturnya bergeser, tetapi jejak-jejak yang ditinggalkan di halaman-halaman sebelumnya tetap ada dan sesekali muncul kembali untuk menyapa pembaca yang mau membuka arsipnya.

Dan mungkin memang begitu cara saya menikmati Fstvlst. Bukan sebagai pendengar yang mengikuti semuanya sejak awal, melainkan sebagai orang yang datang belakangan, menemukan satu keping cerita, lalu berjalan mundur untuk mencari potongan-potongan yang lain. Dari YouTube yang muncul tanpa sengaja, salah mengira Fstvlst dengan .Feast, membeli II, menemukan Jenny, membaca blog lama mereka, berburu CD dan kaset pita, hingga akhirnya sampai di album terbaru ini.

Jadi sekali lagi, ini bukan review album. Ini cuma catatan kecil tentang bagaimana sebuah band, yang awalnya hanya lewat di linimasa, pelan-pelan mengubah seorang pendengarnya menjadi pencari jejak. Dan barangkali, bagi sebagian orang, itu juga salah satu cara menikmati musik: bukan sekadar mendengar apa yang dimainkan hari ini, tetapi ikut menelusuri gema yang mereka tinggalkan sejak dulu.

9.6.26

Rumah dan Selera Musik

 "Selera musikmu
Membuka kelambu telah membentuk
Oh padat telingaku."
— Kalibata 2012, Perunggu.


Barangkali selera musik memang tidak lahir begitu saja dari dalam diri. Sebelum kita merasa menemukan musik yang "gue banget", telinga kita sudah lebih dulu dipenuhi oleh suara-suara dari sekitar: dari rumah, televisi, radio, perjalanan di dalam mobil, atau dari orang-orang yang kebetulan hidup bersama kita.

Anak bungsu saya yang masih TK misalnya. Di mobil, playlist kami sering kali tidak jelas juntrungannya. Kadang Blitzkrieg Bop-nya Ramones, lalu melompat ke Yesterday Once More versi Redd Kross, lalu disambung Sayidan dari Shaggydog. Saya tidak pernah sengaja mengajarinya lagu-lagu itu. Tetapi beberapa hari kemudian, ia mulai ikut rengeng-rengeng potongan reff yang didengarnya. Tentu saja dengan pelafalan yang masih berantakan, tetapi nadanya sudah melekat.

Anak pertama saya juga kurang lebih berangkat dari hal yang sama. Beberapa waktu lalu kami menonton konser Dewa. Kalau dipikir-pikir, kedekatannya dengan lagu-lagu Dewa tidak datang secara tiba-tiba. Sejak kecil, lagu-lagu itu sudah sering terdengar di rumah, di televisi, di YouTube, atau di mobil saat kami bepergian. Lama-kelamaan, lagu-lagu itu menjadi bagian dari ingatannya. Ketika akhirnya kami berdiri bersama di tengah kerumunan penonton dan ikut menyanyikan lagu yang sama, saya merasa itu bukan sedang mengenalkan musik baru kepadanya. Kami hanya sedang mengunjungi sesuatu yang sudah lama tumbuh di dalam dirinya.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri: bukankah saya juga dibentuk dengan cara yang sama?

Waktu kecil, bapak sering memutar lagu-lagu Iwan Fals, Koes Plus, D'lloyd, The Mercy's, Bimbo, Deep Purple, sampai Queen dengan Freddie Mercury. Di lain waktu, om saya punya daftar putar yang berbeda: Ebiet G. Ade, Beegees, Carpenters, dan banyak nama lain yang waktu itu bahkan belum saya pahami. Saya tidak sedang belajar musik. Saya hanya hidup di rumah yang dipenuhi oleh musik.

Mungkin itu sebabnya saya menjadi pendengar yang tidak terlalu mempermasalahkan genre. Saya bisa menikmati lagu-lagu balada, pop, folk, musik lawas Indonesia, sampai rock. Walaupun kalau ditanya sekarang, saya mungkin lebih sering berlabuh pada musik-musik rock. Selera itu ternyata bukan dibentuk oleh satu album atau satu band, tetapi oleh begitu banyak suara yang menemani masa kecil.

Namun yang menarik, proses itu ternyata tidak berhenti pada orang tua yang mewariskan selera musik kepada anak-anaknya. Ada saat ketika anak-anak mulai menemukan dunianya sendiri, lalu gantian membentuk telinga orang tuanya.

Anak perempuan saya, misalnya, beberapa waktu terakhir sedang senang memutar K-pop di YouTube. Awalnya saya hanya mendengar sambil lalu. Sedikit demi sedikit nama-nama seperti Blackpink dan Red Velvet menjadi akrab di telinga. Sampai akhirnya saya menemukan band yang sangat saya sukai: Wave to Earth. Mungkin kalau bukan karena dia, saya tidak akan pernah mendengarkan musik mereka.

Hal yang sama juga terjadi dengan anak lanang. Dari dia saya berkenalan dengan band-band yang mungkin luput dari radar saya: Perunggu, Hindia, Reality Club, dan banyak nama lain. Mereka bukan sekadar memberi rekomendasi lagu. Tanpa sadar, mereka membuka pintu ke dunia musikal yang baru, persis seperti yang dulu dilakukan bapak dan om saya.

generated by chatgpt


Saya jadi merasa bahwa selera musik sebenarnya adalah percakapan panjang antargenerasi. Dulu, bapak mengisi telinga saya dengan Iwan Fals dan Deep Purple. Saya mengisi telinga anak-anak dengan Ramones, Dewa, atau Shaggydog. Lalu anak-anak saya, dengan caranya sendiri, memperkenalkan saya pada Perunggu, Wave to Earth, atau Reality Club. Tidak ada yang benar-benar menjadi guru atau murid. Kami hanya saling bertukar lagu.

Mungkin karena itulah saya suka tiga baris lirik Perunggu itu. "Selera musikmu... telah membentuk." Yang membentuk ternyata bukan hanya musiknya, melainkan orang-orang yang membawanya masuk ke dalam hidup kita. Bapak, om, anak-anak, teman, pasangan, bahkan perjalanan-perjalanan kecil di dalam mobil. Mereka semua, sedikit atau banyak, ikut mengisi dan memadatkan telinga kita.

Dan bisa jadi, bertahun-tahun lagi, anak bungsu saya tidak lagi ingat kapan pertama kali mendengar Blitzkrieg Bop atau Sayidan. Anak pertama saya mungkin lupa kapan lagu-lagu Dewa mulai terasa akrab. Sebagaimana saya juga tidak ingat kapan persisnya mulai menyukai Koes Plus atau Carpenters. Yang tersisa hanyalah perasaan bahwa lagu-lagu itu seperti sudah ada sejak lama, menjadi bagian dari rumah, dari keluarga, dari masa kecil.

Mungkin memang begitu cara musik bekerja. Ia tidak selalu diwariskan lewat cerita atau nasihat. Kadang cukup diputar berulang-ulang, terdengar sepintas dari ruang sebelah, atau menemani perjalanan pulang. Lalu suatu hari kita sadar, ternyata bukan hanya kita yang memilih musik. Musik—melalui orang-orang di sekitar kita—diam-diam juga ikut memilih dan membentuk kita.

1.6.26

Waktu yang Terbuang

Padahal aku pengen nonton Barasuara,” ucap anak lanang ketika kami masih tergopoh-gopoh menuju venue Steril Fest 2026. Dari kejauhan, suara mereka datang lamat-lamat, sedang menyelesaikan Terbuang dalam Waktu.

Yang tidak saya sadari, sejak pertama kali saya memberi tahu bahwa kami akan menonton Steril Fest 2026 hingga berangkat menuju venue, anak saya tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa ia ingin menonton Barasuara.

Baru ketika kami terlambat datang ke venue, karena salah perhitungan arus lalu lintas yang ternyata macet, dia mengeluarkan unek-uneknya itu.

Apadaya, nasi sudah menjadi bubur. Saya boleh saja menyesali kebodohan sendiri yang seharusnya berangkat lebih awal, tetapi semuanya sudah terlanjur. Semoga kejadian itu membuat kami lebih menghargai waktu.

foto dari ig @steril


Beberapa hari sebelum acara berlangsung, saya sudah berusaha mempersiapkan diri dengan baik. Saya bahkan berlatih menghafalkan lirik Terbuang dalam Waktu agar nanti bisa bernyanyi bersama anak dan istri. Menurut saya, lirik lagu itu memang sangat bagus.

Ada satu momen yang masih saya ingat. Ketika sedang berusaha menghafalkan lagu itu, istri saya yang mendengar dari kejauhan spontan berkomentar, "Latihan karaoke? Biar bisa nyanyi bareng? Fals tuh suaranya."

Saya hanya tertawa. Toh tujuan saya bukan menjadi penyanyi. Saya hanya ingin ikut bernyanyi dengan orang-orang yang menyukai lagu yang sama, pada malam yang saya kira akan kami kenang bersama.

Ternyata, lagu yang paling saya persiapkan justru menjadi lagu yang tidak sempat saya dengarkan. Mungkin begitulah cara waktu mengingatkan manusia: tidak pernah menunggu siapa pun yang datang terlambat.



28.5.26

Tentang Perunggu dan Rencana Usang

Berdasarkan informasi yang beredar di dunia maya, Perunggu mulai terbentuk pada 2019 di Jakarta. Single debut mereka, “Menyala”, rilis pada November 2019. Setelah itu muncul EP Pendar (2020), lalu album penuh pertama Memorandum pada Maret 2022. 

Pada masa-masa itu adalah termasuk masa di mana saya mulai banyak unfollow akun-akun penjual kaset pita atau rilisan fisik musik di sosial media baik di Facebook maupun Instagram. Penyebabnya karena saya sedang mengaktifkan mode penghematan.

Jadi bisa dikatakan saya telat mengenal Perunggu, karena saya baru "ngeh" dengan mereka pada tahun 2025.

Saya mengenal Perunggu dari saluran Youtube yang ditonton anak lanang saya yang termasuk dalam kategori gen Z. Dia sering nyetel "33x", "Kalibata 2012" dan lagu-lagu Perunggu lainnya. 

Anehnya, saya merasa relate dengan lirik-lirik lagu Perunggu. Mungkin karena lirik-lirik mereka terdengar dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Apalagi setelah tahu -berdasarkan informasi yang beredar di dunia maya- kalau mereka ngeband sepulang dari kerja. Jadi situasinya mirip-mirip dengan saya.

Tentang Perunggu, ada juga cerita lucunya. 

Berawal dari media sosial ditambah informasi dari seorang siswa SMK yang magang di tempat kerja saya, akan ada festival musik dengan salah satu penampilnya adalah Perunggu. 

Saya langsung menyusun rencana untuk menonton festival musik tersebut dengan mengajak anak lanang. 

Tapi pada hari pelaksanaannya, malah ada acara keluarga yang berlangsung sampai sore dan malam hari. Akhirnya rencana itu gagal begitu saja.
 


Ketika mantengin media sosial setelah menonton Steril Fest 2026 di Semarang kemarin, ada informasi bahwa Perunggu akan tampil di Saint of Memorandum Tour 2026 di kota sebelah, Pati, bersana Superman Is Dead (SID).

Lagi-lagi saya berencana untuk mengajak anak lanang nonton. Tapi anak lanang komentar,"Aku sebenarnya mau-mau saja nonton. Cuma males kalau ada yang mabuk dan ribut-ribut.

Mungkin karena ada Superman Is Dead, dia membayangkan suasananya bakal penuh penonton punk yang liar.

Jangan-jangan rencana menonton Perunggu ini memang ditakdirkan menjadi "Rencana Usang"?

24.5.26

Sal dan Cara Kita Mengingat Hal-Hal Kecil

Apa kamu pernah membayangkan ada orang yang menulis lagu dengan lirik "Ayo, ayo, ayo, besok kita pergi makan.", atau lagu yang bercerita tentang seseorang yang menggambar wajah orang lain yang di dalam ingatannya hanya sedikit yang tersimpan dan berharap orangnya gak marah karena gambarnya jelek?

Kamu akan menemukan hal-hal seperti itu di lagu-lagunya Sal, yang justru dengan hal-hal sederhana menjadikan lirik-lirik yang ditulisnya relate dengan kuping pendengarnya.

Sal di SterilFest 2026


"Aku ingin tinggal di belakang gigimu." -Sal Priadi.


Lagu cinta seperti apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Sal lewat lirik-liriknya? Kedekatan. Sal menawarkan hal-hal kecil yang dekat dengan kita, dekat dengan keseharian kita, yang mungkin tidak terlalu sering kita lihat bahkan mungkin kita abai karena "terlalu biasa". Itu yang saya rasakan. 

Di tengah konser yang riuh, lagu-lagu Sal datang bukan sebagai ledakan, melainkan seperti seseorang yang duduk di sebelahmu dan berkata pelan: “Aku tahu rasanya.

Kemarin sewaktu nonton Steril Fest 2026 di Semarang, saya cukup dibuat terkesima dengan penampilan Sal. Hampir semua lagu yang ditampilkannya, saya ikut menyanyikannya. Lagu-lagu cinta dengan lirik yang dekat dengan keseharian saya membuat koneksi yang cukup erat antara saya dengan lagu-lagunya. 

Seperti juga Sal, saya suka menulis hal-hal di sekitar saya menjadi puisi atau cerita pendek. Bukan untuk terlihat sederhana atau semacamnya, tetapi karena memang saya merasa lebih nyaman menulis tentang sesuatu yang dekat: percakapan kecil, benda-benda sehari-hari, atau perasaan-perasaan yang sering dianggap sepele.

Mungkin karena hidup memang lebih sering hadir lewat hal-hal biasa.





21.5.26

Ketika Namamu Disebut

 

“Manusia ada terlebih dahulu, lalu membentuk makna dirinya sendiri.”
Jean-Paul Sartre

Pada masanya, siaran radio mencapai puncak keemasan. Setiap radio memiliki acara dengan segmen pendengar masing-masing. Ada acara nostalgia yang memutar lagu-lagu lama untuk para pendengar yang ingin kembali ke masa lalu, ada juga program khusus anak-anak muda dengan musik yang lebih keras dan liar.

Radio tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga ruang pertemuan. Pendengar dapat mengirim salam, atensi, atau request lagu sebagai bentuk timbal balik antara suara di studio dan orang-orang di luar sana.

Di kisaran tahun 90-an, di kampung kami terbentuk kelompok anak-anak muda sepermainan. Kami menamainya Gangster Metallian Clans, biasa disingkat Gangster. Kampung lain juga punya kelompok serupa: ada Genk Dog dan nama-nama lain yang kini mungkin tinggal menjadi gema kecil di ingatan.

Kami sering berkumpul malam hari sambil mendengarkan Radio PST Pati, terutama acara musik rock dan metal yang mengudara sekitar dua jam setiap malamnya. Dari situlah kami mengenal banyak lagu dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada kampung kecil kami sendiri.

Karena waktu itu belum ada WA atau media sosial, kami mengirim atensi memakai kartu pos. Kami merequest lagu-lagu seperti “Ikuti” dari Edane atau “Lepas Kendali” dari Jet Liar.

Namun ternyata, yang paling kami tunggu bukan hanya lagu diputar.

Kami juga menuliskan nama kelompok kami. Lalu satu per satu nama anggota:
Genter, Payman, Mink, Bongod, Andhix, Komplong, Muis, Buto, dan Gayok.

Dan ketika penyiar menyebut nama-nama itu di udara, entah kenapa rasanya membanggakan. Bukan karena ingin terlihat hebat, tetapi karena ada rasa senang yang sulit dijelaskan—seolah keberadaan kami benar-benar diakui.

Lebih menyenangkan lagi ketika kami berjalan melewati kampung lain, lalu ada orang yang menyebut nama kelompok kami. Dari sebuah kartu pos dan gelombang radio, nama itu menjalar menjadi percakapan kecil di jalanan.

Mungkin sejak dulu manusia memang punya naluri meninggalkan jejak. Bedanya, dulu kami memakai kartu pos dan gelombang radio. Hari ini orang memakai story, komentar, dan notifikasi.

Pada akhirnya, cara manusia berubah mengikuti zaman. Tetapi keinginannya tetap sama:
ingin didengar,
ingin dikenali,
dan sesekali merasa bahwa dirinya pernah ada.

 

chatgpt

 

17.5.26

Rindu Ini Seperti Dendam yang Dibayar Lunas


Sabtu, 16 Mei 2026, saya mengajak istri dan anak lanang pergi menonton konser bertajuk Steril 2026. Line up-nya membuat saya tertarik: Fayara, Tenggara, Barasuara, Sal Priadi, Tulus, dan penampil utama Dewa 19 feat Virzha, Ari Lasso, serta Marcello Tahitoe.

Sebenarnya, keputusan membeli tiket konser ini bukan semata karena line up-nya. Ada cerita lama yang belum selesai.

Tahun lalu saya sempat membeli tiket konser Dewa 19 di Jepara. Rencana sudah disusun, antusiasme sudah dibangun, tapi acara itu gagal terlaksana karena ketidaksiapan promotor. Bahkan sampai hari ini uang tiketnya pun belum direfund. Awalnya kesal, tentu saja. Tapi lama-lama rasa kecewanya berubah jadi semacam “ya sudah”. Kadang yang lebih sulit hilang bukan uangnya, melainkan harapan yang telanjur dibangun jauh-jauh hari.

Karena itu, saat membeli tiket Steril 2026, ada sedikit rasa waswas. Jangan-jangan nanti berakhir sama seperti sebelumnya. Saya sempat mencari berbagai informasi tentang acara ini di internet, membaca komentar orang-orang, melihat dokumentasi event sebelumnya, dan mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahkan istri dan teman yang tahu cerita pada tahun lalu sempat bertanya "Kamu gak takut kejadiannya terulang? Kamu gak trauma?"

Dan untungnya, kali ini kami benar-benar sampai di konser itu. Meski begitu, perjalanan menuju venue ternyata tidak semulus bayangan. Jalan mulai padat sejak sore. Area parkir penuh. Kendaraan berjalan pelan seperti antrean yang tidak ada ujungnya. Kami datang sedikit terlambat, dan ketika berjalan dari area parkir menuju venue, suara Barasuara sudah terdengar dari kejauhan.

Sayangnya, kami hanya sempat mendengar lagu terakhir mereka, "Terbuang dalam Waktu".
Anak lanang langsung berkomentar pendek dengan nada kecewa, “Padahal aku pengen nonton Barasuara.

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat saya merasa bersalah kecil sebagai bapak yang gagal menghitung macet dengan benar. Ya, Perjalanan yang saya kira hanya memakan waktu sekitar satu jam ternyata molor jauh dari perkiraan. 

Meski begitu, suasana konser perlahan membayar semuanya. Lampu-lampu panggung mulai terasa dekat. Orang-orang berjalan sambil bernyanyi. Ada yang duduk lesehan, ada yang sibuk merekam video, ada juga yang hanya menikmati suasana sambil membawa minuman dan tertawa bersama teman-temannya.


Penampilan Sal Priadi menjadi semacam obat dari kekecewaan kecil karena tertinggal Barasuara. Banyak lagu yang terasa familiar di telinga karena memang sering diputar saat perjalanan naik mobil bersama keluarga. Ada lagu-lagu yang awalnya terdengar biasa saja, sampai akhirnya sadar bahwa lagu itu diam-diam sudah menjadi soundtrack perjalanan pulang, perjalanan liburan, atau sekadar perjalanan mencari makan malam.

Saat Tulus tampil, jujur saja, saya cuma benar-benar hafal dua lagu: “Monokrom” dan “Hati-Hati di Jalan”. Selebihnya saya lebih banyak bengong sambil menikmati suasana. Sesekali melihat lautan manusia ikut bernyanyi bersama. Sesekali memperhatikan lampu-lampu ponsel yang menyala dari berbagai arah. Rasanya tenang, walau di tengah keramaian.


Dan puncak malam itu akhirnya datang ketika Dewa 19 naik ke atas panggung. Seolah membayar lunas hutang yang muncul tahun lalu.

Lucunya, anak lanang yang notabene Gen Z ternyata cukup hafal lagu-lagunya. Mungkin karena sejak kecil memang terbiasa mendengar lagu-lagu Dewa diputar di mobil atau dari video-video YouTube yang entah diputar ulang sudah berapa kali. 


Bernyanyi bersama istri dan anak di tengah ribuan orang asing.
Ada perasaan aneh ketika menyadari bahwa lagu-lagu yang dulu saya dengarkan sendirian, sekarang justru dinyanyikan bersama keluarga kecil saya sendiri. Seolah musik memang punya caranya sendiri untuk melampaui umur. Lagu-lagu yang dirilis jauh sebelum anak saya dilahirkan, ternyata ikut menjadi soundtrack perjalanan hidup kami.

Banyak yang belakangan mengeluhkan crowd yang terlalu padat ketika pulang, area parkir yang jauh, dan antrean kendaraan yang melelahkan. Itu semua bisa menjadi masukan buat promotor untuk acara berikutnya. Tapi buat saya pribadi, konser memang seperti itu. Capeknya justru bagian dari pengalaman. Jalan jauh menuju venue, berdesakan saat keluar area acara, suara bising, kaki pegal—semuanya terasa normal-normal saja.

Malam itu suara habis dipakai teriak. Besok paginya kaki mulai terasa pegal. Badan juga tidak seprima dulu. Usia memang tidak bisa dibohongi. Tapi anehnya, sepanjang perjalanan pulang saya tetap tersenyum sendiri. Seperti judul lagu Hadapi dengan Senyuman—walaupun malam itu tidak dibawakan.

Mungkin beberapa rindu memang harus dibayar lunas dengan cara seperti itu.