17.5.26

Rindu Ini Seperti Dendam yang Dibayar Lunas


Sabtu, 16 Mei 2026, saya mengajak istri dan anak lanang pergi menonton konser bertajuk Steril 2026. Line up-nya membuat saya tertarik: Fayara, Tenggara, Barasuara, Sal Priadi, Tulus, dan penampil utama Dewa 19 feat Virzha, Ari Lasso, serta Marcello Tahitoe.

Sebenarnya, keputusan membeli tiket konser ini bukan semata karena line up-nya. Ada cerita lama yang belum selesai.

Tahun lalu saya sempat membeli tiket konser Dewa 19 di Jepara. Rencana sudah disusun, antusiasme sudah dibangun, tapi acara itu gagal terlaksana karena ketidaksiapan promotor. Bahkan sampai hari ini uang tiketnya pun belum direfund. Awalnya kesal, tentu saja. Tapi lama-lama rasa kecewanya berubah jadi semacam “ya sudah”. Kadang yang lebih sulit hilang bukan uangnya, melainkan harapan yang telanjur dibangun jauh-jauh hari.

Karena itu, saat membeli tiket Steril 2026, ada sedikit rasa waswas. Jangan-jangan nanti berakhir sama seperti sebelumnya. Saya sempat mencari berbagai informasi tentang acara ini di internet, membaca komentar orang-orang, melihat dokumentasi event sebelumnya, dan mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahkan istri dan teman yang tahu cerita pada tahun lalu sempat bertanya "Kamu gak takut kejadiannya terulang? Kamu gak trauma?"

Dan untungnya, kali ini kami benar-benar sampai di konser itu. Meski begitu, perjalanan menuju venue ternyata tidak semulus bayangan. Jalan mulai padat sejak sore. Area parkir penuh. Kendaraan berjalan pelan seperti antrean yang tidak ada ujungnya. Kami datang sedikit terlambat, dan ketika berjalan dari area parkir menuju venue, suara Barasuara sudah terdengar dari kejauhan.

Sayangnya, kami hanya sempat mendengar lagu terakhir mereka, "Terbuang dalam Waktu".
Anak lanang langsung berkomentar pendek dengan nada kecewa, “Padahal aku pengen nonton Barasuara.

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat saya merasa bersalah kecil sebagai bapak yang gagal menghitung macet dengan benar. Ya, Perjalanan yang saya kira hanya memakan waktu sekitar satu jam ternyata molor jauh dari perkiraan. 

Meski begitu, suasana konser perlahan membayar semuanya. Lampu-lampu panggung mulai terasa dekat. Orang-orang berjalan sambil bernyanyi. Ada yang duduk lesehan, ada yang sibuk merekam video, ada juga yang hanya menikmati suasana sambil membawa minuman dan tertawa bersama teman-temannya.


Penampilan Sal Priadi menjadi semacam obat dari kekecewaan kecil karena tertinggal Barasuara. Banyak lagu yang terasa familiar di telinga karena memang sering diputar saat perjalanan naik mobil bersama keluarga. Ada lagu-lagu yang awalnya terdengar biasa saja, sampai akhirnya sadar bahwa lagu itu diam-diam sudah menjadi soundtrack perjalanan pulang, perjalanan liburan, atau sekadar perjalanan mencari makan malam.

Saat Tulus tampil, jujur saja, saya cuma benar-benar hafal dua lagu: “Monokrom” dan “Hati-Hati di Jalan”. Selebihnya saya lebih banyak bengong sambil menikmati suasana. Sesekali melihat lautan manusia ikut bernyanyi bersama. Sesekali memperhatikan lampu-lampu ponsel yang menyala dari berbagai arah. Rasanya tenang, walau di tengah keramaian.


Dan puncak malam itu akhirnya datang ketika Dewa 19 naik ke atas panggung. Seolah membayar lunas hutang yang muncul tahun lalu.

Lucunya, anak lanang yang notabene Gen Z ternyata cukup hafal lagu-lagunya. Mungkin karena sejak kecil memang terbiasa mendengar lagu-lagu Dewa diputar di mobil atau dari video-video YouTube yang entah diputar ulang sudah berapa kali. 


Bernyanyi bersama istri dan anak di tengah ribuan orang asing.
Ada perasaan aneh ketika menyadari bahwa lagu-lagu yang dulu saya dengarkan sendirian, sekarang justru dinyanyikan bersama keluarga kecil saya sendiri. Seolah musik memang punya caranya sendiri untuk melampaui umur. Lagu-lagu yang dirilis jauh sebelum anak saya dilahirkan, ternyata ikut menjadi soundtrack perjalanan hidup kami.

Banyak yang belakangan mengeluhkan crowd yang terlalu padat ketika pulang, area parkir yang jauh, dan antrean kendaraan yang melelahkan. Itu semua bisa menjadi masukan buat promotor untuk acara berikutnya. Tapi buat saya pribadi, konser memang seperti itu. Capeknya justru bagian dari pengalaman. Jalan jauh menuju venue, berdesakan saat keluar area acara, suara bising, kaki pegal—semuanya terasa normal-normal saja.

Malam itu suara habis dipakai teriak. Besok paginya kaki mulai terasa pegal. Badan juga tidak seprima dulu. Usia memang tidak bisa dibohongi. Tapi anehnya, sepanjang perjalanan pulang saya tetap tersenyum sendiri. Seperti judul lagu Hadapi dengan Senyuman—walaupun malam itu tidak dibawakan.

Mungkin beberapa rindu memang harus dibayar lunas dengan cara seperti itu.




No comments:

Post a Comment