Showing posts with label barasuara. Show all posts
Showing posts with label barasuara. Show all posts

1.6.26

Waktu yang Terbuang

“Padahal aku pengen nonton Barasuara,” ucap anak lanang ketika kami masih tergopoh-gopoh menuju venue Steril Fest 2026. Dari kejauhan, suara mereka datang lamat-lamat, sedang menyelesaikan Terbuang dalam Waktu.

Yang tidak saya sadari, sejak pertama kali saya memberi tahu bahwa kami akan menonton Steril Fest 2026 hingga berangkat menuju venue, anak saya tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa ia ingin menonton Barasuara.

Baru ketika kami terlambat datang ke venue, karena salah perhitungan arus lalu lintas yang ternyata macet, dia mengeluarkan unek-uneknya itu.

Apadaya, nasi sudah menjadi bubur. Saya boleh saja menyesali kebodohan sendiri yang seharusnya berangkat lebih awal, tetapi semuanya sudah terlanjur. Semoga kejadian itu membuat kami lebih menghargai waktu.

foto dari ig @steril


Beberapa hari sebelum acara berlangsung, saya sudah berusaha mempersiapkan diri dengan baik. Saya bahkan berlatih menghafalkan lirik Terbuang dalam Waktu agar nanti bisa bernyanyi bersama anak dan istri. Menurut saya, lirik lagu itu memang sangat bagus.

Ada satu momen yang masih saya ingat. Ketika sedang berusaha menghafalkan lagu itu, istri saya yang mendengar dari kejauhan spontan berkomentar, "Latihan karaoke? Biar bisa nyanyi bareng? Fals tuh suaranya."

Saya hanya tertawa. Toh tujuan saya bukan menjadi penyanyi. Saya hanya ingin ikut bernyanyi dengan orang-orang yang menyukai lagu yang sama, pada malam yang saya kira akan kami kenang bersama.

Ternyata, lagu yang paling saya persiapkan justru menjadi lagu yang tidak sempat saya dengarkan. Mungkin begitulah cara waktu mengingatkan manusia: tidak pernah menunggu siapa pun yang datang terlambat.



17.5.26

Rindu Ini Seperti Dendam yang Dibayar Lunas


Sabtu, 16 Mei 2026, saya mengajak istri dan anak lanang pergi menonton konser bertajuk Steril 2026. Line up-nya membuat saya tertarik: Fayara, Tenggara, Barasuara, Sal Priadi, Tulus, dan penampil utama Dewa 19 feat Virzha, Ari Lasso, serta Marcello Tahitoe.

Sebenarnya, keputusan membeli tiket konser ini bukan semata karena line up-nya. Ada cerita lama yang belum selesai.

Tahun lalu saya sempat membeli tiket konser Dewa 19 di Jepara. Rencana sudah disusun, antusiasme sudah dibangun, tapi acara itu gagal terlaksana karena ketidaksiapan promotor. Bahkan sampai hari ini uang tiketnya pun belum direfund. Awalnya kesal, tentu saja. Tapi lama-lama rasa kecewanya berubah jadi semacam “ya sudah”. Kadang yang lebih sulit hilang bukan uangnya, melainkan harapan yang telanjur dibangun jauh-jauh hari.

Karena itu, saat membeli tiket Steril 2026, ada sedikit rasa waswas. Jangan-jangan nanti berakhir sama seperti sebelumnya. Saya sempat mencari berbagai informasi tentang acara ini di internet, membaca komentar orang-orang, melihat dokumentasi event sebelumnya, dan mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahkan istri dan teman yang tahu cerita pada tahun lalu sempat bertanya "Kamu gak takut kejadiannya terulang? Kamu gak trauma?"

Dan untungnya, kali ini kami benar-benar sampai di konser itu. Meski begitu, perjalanan menuju venue ternyata tidak semulus bayangan. Jalan mulai padat sejak sore. Area parkir penuh. Kendaraan berjalan pelan seperti antrean yang tidak ada ujungnya. Kami datang sedikit terlambat, dan ketika berjalan dari area parkir menuju venue, suara Barasuara sudah terdengar dari kejauhan.

Sayangnya, kami hanya sempat mendengar lagu terakhir mereka, "Terbuang dalam Waktu".
Anak lanang langsung berkomentar pendek dengan nada kecewa, “Padahal aku pengen nonton Barasuara.”

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat saya merasa bersalah kecil sebagai bapak yang gagal menghitung macet dengan benar. Ya, Perjalanan yang saya kira hanya memakan waktu sekitar satu jam ternyata molor jauh dari perkiraan. 

Meski begitu, suasana konser perlahan membayar semuanya. Lampu-lampu panggung mulai terasa dekat. Orang-orang berjalan sambil bernyanyi. Ada yang duduk lesehan, ada yang sibuk merekam video, ada juga yang hanya menikmati suasana sambil membawa minuman dan tertawa bersama teman-temannya.


Penampilan Sal Priadi menjadi semacam obat dari kekecewaan kecil karena tertinggal Barasuara. Banyak lagu yang terasa familiar di telinga karena memang sering diputar saat perjalanan naik mobil bersama keluarga. Ada lagu-lagu yang awalnya terdengar biasa saja, sampai akhirnya sadar bahwa lagu itu diam-diam sudah menjadi soundtrack perjalanan pulang, perjalanan liburan, atau sekadar perjalanan mencari makan malam.

Saat Tulus tampil, jujur saja, saya cuma benar-benar hafal dua lagu: “Monokrom” dan “Hati-Hati di Jalan”. Selebihnya saya lebih banyak bengong sambil menikmati suasana. Sesekali melihat lautan manusia ikut bernyanyi bersama. Sesekali memperhatikan lampu-lampu ponsel yang menyala dari berbagai arah. Rasanya tenang, walau di tengah keramaian.


Dan puncak malam itu akhirnya datang ketika Dewa 19 naik ke atas panggung. Seolah membayar lunas hutang yang muncul tahun lalu.

Lucunya, anak lanang yang notabene Gen Z ternyata cukup hafal lagu-lagunya. Mungkin karena sejak kecil memang terbiasa mendengar lagu-lagu Dewa diputar di mobil atau dari video-video YouTube yang entah diputar ulang sudah berapa kali. 


Bernyanyi bersama istri dan anak di tengah ribuan orang asing.
Ada perasaan aneh ketika menyadari bahwa lagu-lagu yang dulu saya dengarkan sendirian, sekarang justru dinyanyikan bersama keluarga kecil saya sendiri. Seolah musik memang punya caranya sendiri untuk melampaui umur. Lagu-lagu yang dirilis jauh sebelum anak saya dilahirkan, ternyata ikut menjadi soundtrack perjalanan hidup kami.

Banyak yang belakangan mengeluhkan crowd yang terlalu padat ketika pulang, area parkir yang jauh, dan antrean kendaraan yang melelahkan. Itu semua bisa menjadi masukan buat promotor untuk acara berikutnya. Tapi buat saya pribadi, konser memang seperti itu. Capeknya justru bagian dari pengalaman. Jalan jauh menuju venue, berdesakan saat keluar area acara, suara bising, kaki pegal—semuanya terasa normal-normal saja.

Malam itu suara habis dipakai teriak. Besok paginya kaki mulai terasa pegal. Badan juga tidak seprima dulu. Usia memang tidak bisa dibohongi. Tapi anehnya, sepanjang perjalanan pulang saya tetap tersenyum sendiri. Seperti judul lagu Hadapi dengan Senyuman—walaupun malam itu tidak dibawakan.

Mungkin beberapa rindu memang harus dibayar lunas dengan cara seperti itu.