Apa kamu pernah membayangkan ada orang yang menulis lagu dengan lirik "Ayo, ayo, ayo, besok kita pergi makan.", atau lagu yang bercerita tentang seseorang yang menggambar wajah orang lain yang di dalam ingatannya hanya sedikit yang tersimpan dan berharap orangnya gak marah karena gambarnya jelek?
Kamu akan menemukan hal-hal seperti itu di lagu-lagunya Sal, yang justru dengan hal-hal sederhana menjadikan lirik-lirik yang ditulisnya relate dengan kuping pendengarnya.
![]() |
| Sal di SterilFest 2026 |
"Aku ingin tinggal di belakang gigimu." -Sal Priadi.
Lagu cinta seperti apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Sal lewat lirik-liriknya? Kedekatan. Sal menawarkan hal-hal kecil yang dekat dengan kita, dekat dengan keseharian kita, yang mungkin tidak terlalu sering kita lihat bahkan mungkin kita abai karena "terlalu biasa". Itu yang saya rasakan.
Di tengah konser yang riuh, lagu-lagu Sal datang bukan sebagai ledakan, melainkan seperti seseorang yang duduk di sebelahmu dan berkata pelan: “Aku tahu rasanya.”
Kemarin sewaktu nonton Steril Fest 2026 di Semarang, saya cukup dibuat terkesima dengan penampilan Sal. Hampir semua lagu yang ditampilkannya, saya ikut menyanyikannya. Lagu-lagu cinta dengan lirik yang dekat dengan keseharian saya membuat koneksi yang cukup erat antara saya dengan lagu-lagunya.
Seperti juga Sal, saya suka menulis hal-hal di sekitar saya menjadi puisi atau cerita pendek. Bukan untuk terlihat sederhana atau semacamnya, tetapi karena memang saya merasa lebih nyaman menulis tentang sesuatu yang dekat: percakapan kecil, benda-benda sehari-hari, atau perasaan-perasaan yang sering dianggap sepele.
Mungkin karena hidup memang lebih sering hadir lewat hal-hal biasa.


No comments:
Post a Comment