Showing posts with label blogging. Show all posts
Showing posts with label blogging. Show all posts

28.5.26

Tentang Perunggu dan Rencana Usang

Berdasarkan informasi yang beredar di dunia maya, Perunggu mulai terbentuk pada 2019 di Jakarta. Single debut mereka, “Menyala”, rilis pada November 2019. Setelah itu muncul EP Pendar (2020), lalu album penuh pertama Memorandum pada Maret 2022. 

Pada masa-masa itu adalah termasuk masa di mana saya mulai banyak unfollow akun-akun penjual kaset pita atau rilisan fisik musik di sosial media baik di Facebook maupun Instagram. Penyebabnya karena saya sedang mengaktifkan mode penghematan.

Jadi bisa dikatakan saya telat mengenal Perunggu, karena saya baru "ngeh" dengan mereka pada tahun 2025.

Saya mengenal Perunggu dari saluran Youtube yang ditonton anak lanang saya yang termasuk dalam kategori gen Z. Dia sering nyetel "33x", "Kalibata 2012" dan lagu-lagu Perunggu lainnya. 

Anehnya, saya merasa relate dengan lirik-lirik lagu Perunggu. Mungkin karena lirik-lirik mereka terdengar dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Apalagi setelah tahu -berdasarkan informasi yang beredar di dunia maya- kalau mereka ngeband sepulang dari kerja. Jadi situasinya mirip-mirip dengan saya.

Tentang Perunggu, ada juga cerita lucunya. 

Berawal dari media sosial ditambah informasi dari seorang siswa SMK yang magang di tempat kerja saya, akan ada festival musik dengan salah satu penampilnya adalah Perunggu. 

Saya langsung menyusun rencana untuk menonton festival musik tersebut dengan mengajak anak lanang. 

Tapi pada hari pelaksanaannya, malah ada acara keluarga yang berlangsung sampai sore dan malam hari. Akhirnya rencana itu gagal begitu saja.
 


Ketika mantengin media sosial setelah menonton Steril Fest 2026 di Semarang kemarin, ada informasi bahwa Perunggu akan tampil di Saint of Memorandum Tour 2026 di kota sebelah, Pati, bersana Superman Is Dead (SID).

Lagi-lagi saya berencana untuk mengajak anak lanang nonton. Tapi anak lanang komentar,"Aku sebenarnya mau-mau saja nonton. Cuma males kalau ada yang mabuk dan ribut-ribut.

Mungkin karena ada Superman Is Dead, dia membayangkan suasananya bakal penuh penonton punk yang liar.

Jangan-jangan rencana menonton Perunggu ini memang ditakdirkan menjadi "Rencana Usang"?

24.5.26

Sal dan Cara Kita Mengingat Hal-Hal Kecil

Apa kamu pernah membayangkan ada orang yang menulis lagu dengan lirik "Ayo, ayo, ayo, besok kita pergi makan.", atau lagu yang bercerita tentang seseorang yang menggambar wajah orang lain yang di dalam ingatannya hanya sedikit yang tersimpan dan berharap orangnya gak marah karena gambarnya jelek?

Kamu akan menemukan hal-hal seperti itu di lagu-lagunya Sal, yang justru dengan hal-hal sederhana menjadikan lirik-lirik yang ditulisnya relate dengan kuping pendengarnya.

Sal di SterilFest 2026


"Aku ingin tinggal di belakang gigimu." -Sal Priadi.


Lagu cinta seperti apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Sal lewat lirik-liriknya? Kedekatan. Sal menawarkan hal-hal kecil yang dekat dengan kita, dekat dengan keseharian kita, yang mungkin tidak terlalu sering kita lihat bahkan mungkin kita abai karena "terlalu biasa". Itu yang saya rasakan. 

Di tengah konser yang riuh, lagu-lagu Sal datang bukan sebagai ledakan, melainkan seperti seseorang yang duduk di sebelahmu dan berkata pelan: “Aku tahu rasanya.

Kemarin sewaktu nonton Steril Fest 2026 di Semarang, saya cukup dibuat terkesima dengan penampilan Sal. Hampir semua lagu yang ditampilkannya, saya ikut menyanyikannya. Lagu-lagu cinta dengan lirik yang dekat dengan keseharian saya membuat koneksi yang cukup erat antara saya dengan lagu-lagunya. 

Seperti juga Sal, saya suka menulis hal-hal di sekitar saya menjadi puisi atau cerita pendek. Bukan untuk terlihat sederhana atau semacamnya, tetapi karena memang saya merasa lebih nyaman menulis tentang sesuatu yang dekat: percakapan kecil, benda-benda sehari-hari, atau perasaan-perasaan yang sering dianggap sepele.

Mungkin karena hidup memang lebih sering hadir lewat hal-hal biasa.





6.11.16

Vibrasi

Suatu ketika saya berangkat pergi sambil mendengarkan beragam lagu di telinga dari MP3 player dengan mode acak. 

Lagu pertama yang muncul adalah "Killing In  The Name"nya Rage Against The Machine, dilanjut Red Hot Chili Peppers dengan lagunya yang berjudul "Under The Bridge" dari album Blood Sugar Sex Magic, kemudian  "Fade To Black"nya Metallica. 

Putaran lagu terhenti pas di lagu "Jangan Terulang Lagi"nya Koes Plus. Suara Yon Koeswoyo dengan vibrasi di setiap akhir kalimat yang merupakan ciri khasnya, dan ternyata suara melodi pianonya pun ada vibrasinya.

"Seperti harapan dalam hati, 
Selalu datang hari demi hari. 
Terlalu sedih berkali-kali, 
Tapi janganlah terulang lagi"


Nah, soal vibrasi ini membuat saya teringat pada teman saya di kampung. Dia sering bersenandung lagu-lagunya Ebiet G Ade, bukan dengan gumaman tapi bersiul. Dan siulannya pun bervibrasi!