Showing posts with label band rock. Show all posts
Showing posts with label band rock. Show all posts

15.6.26

Mendengarkan Fstvlst dari Belakang


                  
 

Disclaimer kecil sebelum mulai: tulisan ini bukan review album. Saya tidak akan membahas struktur lagu, kualitas produksi, atau memberi penilaian angka. Ini hanya catatan seorang pendengar yang kebetulan nyasar ke Fstvlst, sempat lupa, lalu tanpa sadar ikut mengumpulkan jejak-jejak yang mereka tinggalkan.

Perkenalan saya dengan Fstvlst juga tidak istimewa. Bukan karena rekomendasi teman, bukan pula karena sengaja mencari. Mereka muncul begitu saja di linimasa YouTube. Saya iseng mendengarkan beberapa lagunya dan merasa cocok. Tapi setelah itu ya sudah. Saya lupa. Bahkan untuk beberapa waktu saya masih sering tertukar antara Fstvlst dan .Feast.

Barangkali memang ada musik yang tidak meminta kita untuk langsung jatuh cinta. Ia hanya lewat sebentar, lalu diam-diam menunggu kita kembali.

Sampai suatu waktu saya kembali mendengarkannya. Kali ini lebih serius. Dan entah kenapa, saya memutuskan membeli album II. Dari situlah semuanya berjalan mundur. Saya mulai mencari tahu siapa sebenarnya Fstvlst. Ternyata sebelum bernama Fstvlst, mereka ada keterkaitan dengan band bernama Jenny.

Sejak itu, saya seperti sedang mengurai sebuah silsilah. Saya menemukan blognya Jenny dan membacanya satu per satu, seperti membuka arsip lama. Saya preorder kaset pita Jenny. Saya membeli CD Hits Kitsch. Saya juga sempat ikut berburu kaset pita Hits Kitsch, sebelum akhirnya memilih mundur teratur karena harga yang ditawarkan sudah tidak lagi masuk akal. Terakhir saya melihat ada yang membanderolnya hingga enam juta rupiah.

Lucunya, saya tidak merasa sedang mengoleksi benda. Rasanya lebih seperti mengumpulkan potongan cerita yang tercecer di berbagai tempat. Sebab makin jauh menggali, makin terasa bahwa perjalanan Fstvlst bukanlah rangkaian album yang berdiri sendiri-sendiri. Ada semacam benang yang menghubungkan semuanya, dari masa Jenny sampai hari ini.

Karena itu, ketika album terbaru mereka dirilis terbatas dalam rangka Record Store Day 2026, saya tahu cerita lama akan berulang. Saya tidak mendapatkannya di harga rilis. Album itu akhirnya saya peroleh setelah harganya hampir dua kali lipat dari harga awal. Sebuah ironi kecil yang mungkin sudah biasa dalam dunia rilisan fisik: semakin terbatas jumlahnya, semakin mahal pula kenangan yang harus ditebus.

Yang membuat saya semakin tertarik justru bukan soal kelangkaan itu, melainkan bagaimana album terbaru ini terasa seperti mengajak pendengarnya menoleh ke belakang. Di beberapa lagu ada sampel dari karya-karya sebelumnya. Ada potongan lirik yang seperti berbicara dengan lirik di album lain. Ada kesan bahwa lagu-lagu mereka tidak pernah benar-benar selesai, melainkan saling menyambung dan membentuk percakapan yang panjang.

Mungkin karena itulah saya merasa perjalanan Fstvlst tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Jenny, seperti pergantian bab dalam novel yang sama. Beberapa tokohnya berubah, beberapa cara bertuturnya bergeser, tetapi jejak-jejak yang ditinggalkan di halaman-halaman sebelumnya tetap ada dan sesekali muncul kembali untuk menyapa pembaca yang mau membuka arsipnya.

Dan mungkin memang begitu cara saya menikmati Fstvlst. Bukan sebagai pendengar yang mengikuti semuanya sejak awal, melainkan sebagai orang yang datang belakangan, menemukan satu keping cerita, lalu berjalan mundur untuk mencari potongan-potongan yang lain. Dari YouTube yang muncul tanpa sengaja, salah mengira Fstvlst dengan .Feast, membeli II, menemukan Jenny, membaca blog lama mereka, berburu CD dan kaset pita, hingga akhirnya sampai di album terbaru ini.

Jadi sekali lagi, ini bukan review album. Ini cuma catatan kecil tentang bagaimana sebuah band, yang awalnya hanya lewat di linimasa, pelan-pelan mengubah seorang pendengarnya menjadi pencari jejak. Dan barangkali, bagi sebagian orang, itu juga salah satu cara menikmati musik: bukan sekadar mendengar apa yang dimainkan hari ini, tetapi ikut menelusuri gema yang mereka tinggalkan sejak dulu.

27.7.23

Perkenalan Dengan Dream Theater

Perkenalan saya dengan Dream Theater awalnya sungguh biasa saja. Adik saya Andy yang seorang gitaris, sering memainkan lagu "Another Day" dari album Images and Words-nya Dream Theater. Jadi secara tidak langsung saya sering tanpa sengaja ikut mendengarkan, tapi masih dengan kesan biasa saja, karena menurut saya kadar popnya masih cukup banyak. Mungkin memang tidak cukup hanya dengan mendengar satu lagu saja, untuk memberi penilaian.

Baru setelah saya mendengar secara penuh satu album Dream Theater "Metropolis Pt 2: Scenes From A Memory", saya merasa terpesona dengan permainan mereka dari awal sampai akhir album. Dengan susunan lagu yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai sebuah naskah cerita, menjadi seperti sedang membaca buku atau menonton film. 

Sejak saat itulah saya mulai mencoba untuk mengoleksi kaset-kaset album Dream Theater, dari album-album sebelum Images and Words sampai setelah-setelahnya. Pencarian album dalam bentuk kaset saya lakukan di toko-toko kaset dan cd yang waktu itu masih cukup banyak, baik toko kaset baru maupun lapak-lapak kaset bekas. 

Ketika pergi ke suatu kota, saya akan dengan sengaja berjalan-jalan mencari informasi di mana ada toko atau lapak yang menjual kaset. Misal Johar, Citraland atau Buletin Musik di Semarang, atau di toko Harapan Musik dan lapak kaset bekas di pasar Legi dan depan Optik Melawai di Solo. 

Sewaktu tinggal di Solo untuk sementara waktu, saya merasakan betapa sulitnya mencari album Dream Theater yang berjudul "Awake" dengan maksud untuk menggenapi koleksi. Karena sulitnya mencari album tersebut, saya sempat merekam cd mp3 album Awake ke dalam bentuk kaset pita. Walaupun pada akhirnya saya bisa memperoleh kaset Awake di toko onlen dengan harga yang cukup lumayan, itupun butuh waktu lama, jauh sekali rentang waktu yang diperlukan hingga bisa memperolehnya.





26.6.23

Edane: Jabrik (Big Town)


Album kedua Edane dengan cover warna hitam, musiknya masih serupa dengan album pertama mereka dimana distorsi gitar begitu dominan dengan riff-riff yang padat. Di album ini posisi vokal berganti dari Ecky Lamoh ke Heri "Ucok" Batara. Teriakan Ucok memang tidak semelengking Ecky, tapi itu tidak mengurangi daya ledak album ini.

Berisi 12 track lagu dengan total durasi kurang lebih sekitar 50 menit, dengan 7 lagu diantaranya berbahasa inggris dan 2 lagu instrumental. Album dibuka dengan pekikan gitar pada lagu berjudul "Wake of The Storm". 

Favorit saya di album ini adalah lagu berbahasa inggris berjudul "Jungle Beat", di mana bagian yang paling saya sukai adalah riff gitarnya yang tanpa sadar membuat saya manggut-manggut setiap kali memutar lagu ini, baik di aplikasi layanan pemutar musik digital maupun kaset pita yang saya putar menggunakan tape recorder.

Lagu lain yang saya suka adalah sebuah balada berjudul "Victim of The Strife" yang juga sering saya rengeng-rengengkan atau cover melalui aplikasi Smule di android.

Bagian refrain Victim of The Strife:

Do you hear they are cryin 
such a lonely life
Not fit for a child 

Look into their eyes are shinin'
they're never tell a lie
Just keep the light a live

Album ini juga memuat satu nomor instrumental permainan bas dari Iwan Xaverius berjudul I.X.S yang tak mau kalah dengan sang gitaris Eet Sjahranie dengan instrumentalnya berjudul Kurusetra.

Secara keseluruhan, menurut saya album ini tidak kalah dengan album debut mereka sebelumnya. Bahkan makin menegaskan bentuk dan warna musik yang dipilih Edane.

***

Edane:

Eet Sjahranie    Gitar, Backing Vocal
Iwan Xaverius  Bas, Backing Vocal
Fajar Satritama Drum, Backing Vocal
Heri Batara       Vokal

List Lagu:

1. Wake of The Storm
2. Jungle Beat
3. Jabrik (Big Town)
4. Victim of The Strife
5. Call Me Wild
6. Pancaroba
7. Kharisma
8. Way Down
9. I.X.S
10. Alam Manusia
11. Burn It Down
12. Kurusetra