6.10.16

Gitar Pertama

jangan bayangkan saya di usia muda dibelikan gitar oleh orang tua, bahkan sampai sekarang tidak juga dibelikan. hahahaha. tapi bukan itu yang ingin saya bahas.
-------

seperti anak kecil pada umumnya, saya juga gemar meniru apa yang orangorang tua lakukan. saya kadang menirukan seorang sopir, kadang juga menirukan kondektur. lain waktu menirukan seorang tukang parkir, dan seterusnya. tapi yang paling sering saya tirukan adalah seorang pemain band.

pernah suatu pagi, libur sekolah, saya dan adik saya, Andi, serta seorang teman bernama Lulus bermain menirukan pemain band.

kami lalu menjejer beberapa buah ember dan tutup panci untuk dijadikan sebagai drum. kemudian Lulus mengambil senter untuk dijadikan sebagai mik, dan saya mengambil gitar. tentunya bukan gitar betulan. tapi sebuah penggebuk kasur yang terbuat dari rotan.

itulah gitar pertama saya, bagaimana dengan anda?

Gombloh

"di radio aku dengar lagu kesayanganmu
ku telepon di rumahmu sedang apa sayangku
kuharap kau mendengar
dan kukatakan rindu"

bait awal lagu "kugadaikan cintaku" punya Gombloh terdengar di kejauhan. itu tandanya sebentar lagi akan ada gerobak penjual donat lewat.

hampir setiap sore dia lewat di jalan depan rumah, dan lagu yang diputar dan terdengar melalui corong toa kecilnya itu hanya lagu-lagu milik Gombloh, yang pada waktu itu (90an) booming di masyarakat.

sosok yang berpenampilan unik dan eksentrik itu memang mudah dikenali. dengan kacamata yang ada rantai kecilnya, kumis dan jenggot panjangnya, serta topi yang selalu tersemat di kepala, Gombloh wara-wiri di layar televisi.

jauh sebelum itu, saya mengenal lagu Gombloh dari kaset milik bapak yang aering diputar, album Sekar Mayang. lagu yang saya ingat adalah "Lindri-lindri" dan "Sekar Mayang".

banyak lagu-lagu Gombloh yang bernuansa kritik sosial, yang dikemas dengan lirik yang mudah dicerna dan musik yang enak dinikmati. dia telah menahbiskan dirinya menjadi seorang legenda, setidaknya bagi saya pribadi.

"hong wilaheng sekaring bawana langgeng
sekar mayang"

2.8.16

RIP: Krisna J Sadrach

(foto dari akun facebook Krisna J Sadrach)

Tadi pas jalanjalan di facebook, di timeline ada banyak sekali yang ngetag akun mas Krisna J Sadrach, yang saya tahu sudah cukup lama dikabarkan sakit. Ternyata berita kehilangan besar di dunia musik metal Indonesia. Krisna J Sadrach yang merupakan pentolan sekaligus basis dan vokalis band thrash metal pionir di Indonesia, Suckerhead.

Saya mengenal nama Krisna J Sadrach melalui album-album Suckerhead yang saya miliki dan sering saya putar. Dengan suara khasnya membuat lagulagu Suckerhead menjadi enak untuk dinikmati, selain karena lirikliriknya yang cukup kritis. Beberapa lagu yang saya sukai adalah Perang, Bosan, Manic Depressive, Catatan Terakhir dan Neraka Jahanam yang merupakan cover version dari lagu punya Duo Kribo.

Selain berkiprah di Suckerhead, Krisna bersama Irfan Sembiring (vokalis dan gitaris Rotor) mengelola Rotorcorp yang memproduseri beberapa album kompilasi bandband underground untuk diorbitkan. Yang terkenal adalah seri Metalik Klinik dan Gitar Klinik.

Akhir 90an saya pernah menyaksikan langsung penampilan Krisna J Sadrach di GOR UNS Solo, dia tampil setelah sebelumnya menjadi juri di sebuah festival musik underground. Beberapa lagu Suckerhead dilantunkannya.

Sekarang, kita kehilangan dedengkot musik metal di Indonesia. Selamat jalan, mas. Semoga dilapangkan.

"Malam yang hening sepi
Di alam mimpi aku sendiri
Apakah engkau masih di sana?
Yang kutemukan hanyalah misteri"

¤ Catatan Terakhir by Suckerhead ¤

29.7.16

Smule: Membuat Saya Merasa 20 Tahun Lebih Muda

Beberapa bulan belakangan ini saya sedang "mesra" dengan Smule. Sebuah aplikasi karaoke yang bisa dioperasikan di hape android. Dengan smule, saya bisa menyanyikan lagulagu yang saya inginkan. Dari berbagai genre, seperti rock, metal, pop, alternative, sampai reggae, ada. Dari lagu tahun 60an, 70an sampai termutakhir juga tersedia.

Setidaknya dengan aplikasi ini bisa mengobati kerinduan sekaligus nostalgia tentang aktivitas nyanyi menyanyi yang pernah saya lakoni dulu, ketika masih aktif ngeband, di kampung dan di kampus.

Oh ya, dengan aplikasi smule, kadang kita juga bisa berduet dengan penyanyi asli dari lagu yang kita mau nyanyikan. Di samping kita juga bisa mengasah kemampuan bernyanyi kita, baik mau bersolo atau berduet. Berduet dengan orang negeri sendiri maupun orang asing. Secara serius atau having fun. Monggo saja.

Lepas dari sisi persoalan hak cipta, mari nikmati kemudaan dan keriaan ini. Mumpung.

17.5.16

Koes Plus

Selepas SMA saya menjadi pengangguran sebentar karena masa transisi sebelum menuju ke perkuliahan. Selama menganggur itu saya sehari-hari nongkrong bareng dua orang teman, yang bernama Bagong dan Bandhot. Setiap hari kami selalu nenteng gitar, nongkrong sambil nyanyi-nyanyi. Waktu itu saya belum bisa main gitar, hanya ikutan nyanyi saja.

Kemudian saya iseng-iseng ikutan belajar main gitar, yang menjadi guru gitar saya adalah Bandhot, yang pernah punya pengalaman merantau di Surabaya.

Apa lagu yang pertama saya latih mainkan dengan gitar? Lagu "kembali"nya Koes Plus. dengan riff sederhana dan lirik yang mudah dihapal membuat saya bisa berlatih main gitar dengan nyaman.

Sebelumnya saya memang sudah menjadi penikmat lagu-lagu Koes Plus yang saya dengarkan melalui siaran radio transistor. Jadi sedikit banyak saya sudah cukup akrab dengan lagu-lagu mereka. Apalagi kedua orang tua saya juga cukup familiar dengan Koes Plus, bahkan memiliki beberapa kaset rekaman mereka.

Bagi saya, Koes Plus merupakan band besar di Indonesia yang menjadi panutan dan kiblat bagi band-band setelahnya.

Apa lagu favorit saya? Hampir semua lagu Koes Plus yang pernah saya dengar, saya hapal liriknya di luar kepala. Tapi tentunya ada beberapa yang menjadi lagu kesenangan saya, yang masih sering saya dengarkan sampai dengan sekarang, di antaranya adalah Why Do You Love Me, Pelangi, Ku Jemu, Kelelawar, Jangan Terulang Lagi, Hatimu Beku serta Andaikan Kau Datang.

Bagaimana dengan anda?