4.8.17

Chester O Chester


from: Linkin' Park Fanspage

Setelah beberapa bulan lalu penggemar musik rock dikejutkan dengan berita meninggalnya vokalis band Soundgarden dan Audioslaves yang juga pentolan musik alternative Chriss Cornell, tiba-tiba kabar duka itu datang lagi.
 
Chester Bennington vokalis band Linkin' Park dikabarkan meninggal dunia bunuh diri dengan cara menggantung diri. Entah sebab apa yang melatar belakanginya, hanya disinyalir ada hubungannya dengan obat-obatan terlarang yang sempat melingkupi sisi kehidupannya.

Generasi yang tumbuh di era 90an akhir dan 2000an awal pasti tidak ada yang tidak mengenal Linkin' Park. Dan untuk generasi yang hidup di era sekarang ini pasti juga familiar dengan lagu-lagu Linkin' Park yang menjadi soundtrack dari film Transformer, sebut saja lagu What I've Done (Transformer I, 2007), New Divide (Transformer II, 2009) dan Iridescent (Transformer III, 2011). Selain itu ada juga hits-hits yang lain dari Linkin' Park seperti Somewhere I Belong, Crawling, Numb, Breaking The Habit dan banyak lagi.

Apapun penyebab dan alasan di balik kematiannya, Chester bersama Linkin' Park dan juga Limp Bizkit telah mengenalkan dan mempopulerkan Nu Metal pada eranya. Meski di tahun-tahun terakhir musik Linkin' Park menjadi agak berbeda dengan musik mereka di awal-awal karirnya.

"Do you feel cold and lost in desperation
You build up hope, but failures all you've known
Remember all the sadness and frustration
And let it go. Let it go."
-Iridescent-

Selamat jalan!

30.7.17

Panggung Jeparawk Evolution Part 5

Dari info yang saya terima melalui media sosial acara ini akan dimulai dari pukul 10.00 wib, dan ketika saya datang pukul 12.12 wib masih terlihat ada beberapa kelompok anak muda usia belasan bergerombol di luar lokasi. Mereka berdandan dan beratribut nama-nama band yang jadi idola mereka, seperti Slank, Endank Soekamti, Superman Is Dead dan band-band beraliran pop punk tahun 2000an. Saya yang datang dengan memakai kaos bergambar band thrash metal terkemuka tanah air bernama ROTOR yang pernah menjadi band pembuka konser Metallica, menjadi merasa paling uzur berada di antara mereka.

Ini adalah percobaan pertama saya untuk datang dan menyaksikan pertunjukan musik langsung dari depan stage, setelah sekian lama disibukan dengan rutinitas pekerjaan dan urusan lain yang cukup menyita waktu. Dan untuk kali ini saya tidak sendiri tetapi mengajak serta anak sulung saya yang baru saja masuk SD 2 minggu yang lalu, Magdala.

Dengan tajuk acara "Jeparawk Evolution Part 5" dalam benak saya acara ini akan menampilkan band-band yang beraliran rock, atau setidaknya ada bau-bau rocknya di musik yang dimainkan. Dari poster yang disebar melalui media sosial deretan band yang jadi performer adalah Berdiri Tegak, DOC, Sweet Chucky, Summer Ska, Sisi-Kiri MP, Pegazus, Rastasky dan bintang tamu dari Yogyakarta, Rebellion Rose.

Band yang penampilannya saya tunggu adalah Pegazus yang mengkover lagu-lagunya Slank, dan Rastasky pentolan reggae dari Jepara. Juga rasa penasaran akan penampilan band tamu dari Jogja, Rebellion Rose.

Lokasi acara yang berada di sebuah lapangan olah raga tepatnya di Batealit Sport Centre, bisa dibayangkan betapa panasnya ketika terik matahari tepat berada di atas kepala. Di depan panggung (sempat) tidak ada satupun penonton, bahkan beberapa  di antara mereka lebih memilih berada di bawah panggung atau berlindung di bawah dinding-dinding tembok yang mengelilingi lapangan.

Beberapa band yang sudah perform jenis musik yang dimainkan memang berbeda-beda, metalcore dan post/pop punk.

Area depan panggung mulai ramai ketika salah satu band yang tampil membawakan lagu-lagu dari Superman Is Dead. Dan semakin sore semakin ramai penonton yang datang, apalagi ketika Rastasky dan Pegazus perform di atas panggung.

Setelah jeda adzan ashar, acara dilanjutkan dengan penampilan band dari Yogyakarta Rebellion Rose dan sekaligus mengakhirinya pada sekitar pukul 16.00 wib.

Sampai di akhir acara para penonton terlihat tertib, meski sempat ada keributan kecil antar penonton yang sempat berefek kepada penonton perempuan. Tapi secara keseluruhan acara berlangsung aman, tertib dan teratur. Salut untuk pihak panitia dan keamanan yang sudah berusaha menyukseskan gelaran ini. Sampai jumpa di gigs berikutnya. \m/




21.5.17

Basisnya Menghilang

Pernahkah kalian mengalami kehilangan seorang pemain bas ketika akan pentas? Saya pernah mengalaminya, sampai dua kali malahan.

Pertama:
Waktu itu saya punya band, namanya Corned Beef, band kampus. Anggotanya selain saya adalah Widyar (Drum), Widodo (Bas) dan Rachmat (Vokal). Kami memainkan lagu-lagunya Jamrud, Smashing Pumpkins, Firehouse, Guns N Roses dan yang sealiran. Kami biasa berlatih selepas kuliah, di sore hari.

Suatu ketika, kami akan tampil pada acara inagurasi pelepasan wisudawan. Seperti biasa, kami berlatih dengan tekun. Dengan formasi lengkap. 

Ketika sehari menjelang hari pelaksanaan, tiba-tiba basis kami yang bernama Widodo pergi entah kemana. Kami menjadi kelimpungan, karena sudah terlanjur bilang ke panitia bahwa kami siap tampil. 

Setelah nabrak sana-sini, akhirnya kami putuskan bahwa posisi bas akan saya pegang, yang biasanya berposisi sebagai gitaris. Lalu, kami minta bantuan salah seorang teman yang bernama Raden untuk menjadi additional player di posisi gitar.

Hingga tiba waktu pentas, penampilan di atas panggung bisa dilalui dengan mulus. Dan, setelah Widodo sang basis itu pulang dari “pelarian”nya, akhirnya kami tahu bahwa dia pergi naik gunung bersama teman-teman di kampungnya.

Kedua:
Proposal untuk manggung mengisi acara pensi di sebuah SMA di kampung sudah kami sampaikan ke pihak panitia. Waktu itu saya bergabung di band bernama Tupas. 

Tupas Band ini beranggotakan Andik (Lead Gitar), Alex (Drum), Peddex (Bas), Kukuh (Gitar Bolong), Dilla (Vokal), dan saya  sendiri (Rhytm Gitar). Kami biasa memainkan lagu-lagu Slank, Boomerang, Netral, Red Hot Chilli Peppers, Pearl Jam, Padi, dan band-band lainnya. 

Menjelang hari pentas, kami latihan seperti biasa untuk persiapan, agar bisa tampil secara maksimal.

Sehari sebelum waktu pentas tiba, kami latihan terakhir. Eh, ternyata Peddex tidak hadir, dan tidak memberi kabar. Setelah bertanya kepada orang tuanya, ternyata dia pergi ke tempat saudaranya yang ada di luar kota.

Lalu kami minta tolong kepada adik dari drummer kami, untuk menggantikan posisi sebagai pemain bas. Karena terbiasa nongkrong pada saat kami latihan, si Ari ini jadi gak terlalu kesulitan untuk ikut permainan kami.

Tibalah waktu pentas itu, dan dapat kami lalui dengan tanpa halangan berarti, walaupun tidak ada dokumentasi karena semua hasil jepretan oleh fotografer kami, mas Benu, semua gosong!

google.com
 

Fell On Black Days

"How would I know
That this could be my fate"

 [Soundgarden, Fell On Black Days]


[rollingstone.com]

#90an

Majalah Hai menerbitkan satu edisi Haiklip yang membahas fenomena musik Grunge atau disebut juga dengan Seattle Sound. Sebuah "sekte" musik yang dimotori dan didominasi oleh band-band yang berasal dari sekitar Seattle.


Di Haiklip tersebut dibahas 3 band yang disebut sebagai Pendekar Grunge, yaitu Nirvana, Pearl Jam dan Soundgarden. Setelah membaca majalah tersebut saya membeli Nevermindnya Nirvana, Tennya Pearl Jam dan Superunknownnya Soundgarden.

Saya begitu tersihir dengan musik Soundgarden dan lengkingan suara Chris Cornell, yang secara musikal berbeda dengan Nirvana dan Pearl Jam. Beberapa lagu di album Superunknown segera saja menjadi favorit untuk saya dengarkan, antara lain adalah Fell On Black Days, Black Hole Sun, Spoonman, dan My Wave.

#2000an


Chris Cornell membentuk Audioslave yang musiknya berbeda dengan Soundgarden. Ada beberapa lagu yang saya suka diantaranya Be Your Self, Like A Stone dan Until We Fall. Soal lagu Until We Fall ini, saya punya pengalaman menarik.


"What do you feel before you think?
What do you see before you blink?
Who do you battle in your dreams?
Who strokes your feathers 'til you scream?"
[Audioslave, Until We Fall]

Suatu hari ketika saya dan pacar saya (sekarang jadi istri saya) lagi jalan di mal, dan mendengar sebuah lagu yang suaranya saya rasa begitu familiar tapi tidak tahu judulnya. Segera saja saya dan pacar saya mencari operator musik untuk menanyakan judul dan penyanyinya. Ternyata operatornya tidak tahu.

Operator bilang, dia hanya menerima sebuah cd untuk diputar pada hari itu, tanpa label tanpa daftar isi. Saya terpaksa harus menahan keingintahuan saya itu.

Kemudian saya browsing di internet akhirnya ketemu judulnya Until We Fall dan penyanyinya adalah Audioslave.
 
#RIPChrisCornell

Mendapat berita kematiannya membuat saya terkejut, apalagi dengan cara yang dipilihnya. Tapi, apapun itu, Chris telah memilih jalannya sendiri. Goodluck.


"I was lost in the cities, alone in the hills.
No sorrow or pity for leaving, I feel, yeah."
[Audioslave, I'm The Highway]

***
#RIPChrisCornell #Grunge #Soundgarden #Audioslave #Seattle #ChrisCornell

4.4.17

Edane


"Mari sini ikuti aku, 
Nyanyikan lagu-lagu yang berani"

Sepenggal lirik di bagian reffrain lagu berjudul Ikuti dari album perdana band Edane itu membuat telinga menjadi panas dan darah bergolak penuh semangat. Riff gitar yang mengaum penuh distorsi dipadu dentuman bas dan gebukan drum yang penuh tenaga membuat lengkingan vokal menjadi semakin membahana.

Edane namanya, band beraliran rock yang dibentuk oleh Eet Sjahranie pada gitar dan Ekky Lamoh pada vokal, diperkuat juga oleh Iwan Xaverius pada bas serta Fajar Satritama pada drum. Dengan mengambil genre hardrock yang berkiblat pada Van Halen maupun AC/DC, membuat Edane menjadi band yang disegani, bahkan menjadi band pembuka konser Sepultura di Jakarta.

Eet disebut sebagai gitaris rock generasi baru yang punya skil cukup memadai, dianggap sebagai gitaris handal berikutnya setelah Ian Antono. Sebagian ada yang menganggap Eet adalah Eddie Van Halennya Indonesia.

Sering gonta-ganti vokalis tidak melunturkan kesukaan saya pada lagu-lagu Edane, untuk menyebut beberapa diantaranya adalah Ikuti, The Beast, Liarkan Rasa, Victim Of The Strife, Borneo, Jabrik, Cahaya dan Best Of Me. 

Personel awal Edane yang masih tinggal hingga sekarang adalah Eet Sjahranie dan Fajar Satritama. Sementara Iwan Xaverius membentuk band Blackout, Ekky Lamoh bersolo karir dan Heri Batara sempat menjadi manager Edane. 

Meski kini Fajar Satritama gabung dengan Godbless, seperti sebelumnya Eet Sjharanie juga sempat gabung dengan Godbless, tapi roda rock n roll Edane masih terus akan menggelinding.

Hail Edane!

google.com