29.7.16

Smule: Membuat Saya Merasa 20 Tahun Lebih Muda

Beberapa bulan belakangan ini saya sedang "mesra" dengan Smule. Sebuah aplikasi karaoke yang bisa dioperasikan di hape android. Dengan smule, saya bisa menyanyikan lagulagu yang saya inginkan. Dari berbagai genre, seperti rock, metal, pop, alternative, sampai reggae, ada. Dari lagu tahun 60an, 70an sampai termutakhir juga tersedia.

Setidaknya dengan aplikasi ini bisa mengobati kerinduan sekaligus nostalgia tentang aktivitas nyanyi menyanyi yang pernah saya lakoni dulu, ketika masih aktif ngeband, di kampung dan di kampus.

Oh ya, dengan aplikasi smule, kadang kita juga bisa berduet dengan penyanyi asli dari lagu yang kita mau nyanyikan. Di samping kita juga bisa mengasah kemampuan bernyanyi kita, baik mau bersolo atau berduet. Berduet dengan orang negeri sendiri maupun orang asing. Secara serius atau having fun. Monggo saja.

Lepas dari sisi persoalan hak cipta, mari nikmati kemudaan dan keriaan ini. Mumpung.

17.5.16

Koes Plus

Selepas SMA saya menjadi pengangguran sebentar karena masa transisi sebelum menuju ke perkuliahan. Selama menganggur itu saya sehari-hari nongkrong bareng dua orang teman, yang bernama Bagong dan Bandhot. Setiap hari kami selalu nenteng gitar, nongkrong sambil nyanyi-nyanyi. Waktu itu saya belum bisa main gitar, hanya ikutan nyanyi saja.

Kemudian saya iseng-iseng ikutan belajar main gitar, yang menjadi guru gitar saya adalah Bandhot, yang pernah punya pengalaman merantau di Surabaya.

Apa lagu yang pertama saya latih mainkan dengan gitar? Lagu "kembali"nya Koes Plus. dengan riff sederhana dan lirik yang mudah dihapal membuat saya bisa berlatih main gitar dengan nyaman.

Sebelumnya saya memang sudah menjadi penikmat lagu-lagu Koes Plus yang saya dengarkan melalui siaran radio transistor. Jadi sedikit banyak saya sudah cukup akrab dengan lagu-lagu mereka. Apalagi kedua orang tua saya juga cukup familiar dengan Koes Plus, bahkan memiliki beberapa kaset rekaman mereka.

Bagi saya, Koes Plus merupakan band besar di Indonesia yang menjadi panutan dan kiblat bagi band-band setelahnya.

Apa lagu favorit saya? Hampir semua lagu Koes Plus yang pernah saya dengar, saya hapal liriknya di luar kepala. Tapi tentunya ada beberapa yang menjadi lagu kesenangan saya, yang masih sering saya dengarkan sampai dengan sekarang, di antaranya adalah Why Do You Love Me, Pelangi, Ku Jemu, Kelelawar, Jangan Terulang Lagi, Hatimu Beku serta Andaikan Kau Datang.

Bagaimana dengan anda?

11.5.16

Ahmad Dhani

Dari bernawa Dewa 19, berubah menjadi Dewa, kemudian membentuk The Rock yang kemudian bertransformasi menjadi TRIAD. Lalu berdirilah Mahadewa. Mengorbitkan Dewi Dewi, yang kemudian  menjadi Mahadewi. Satu nama yang selalu terngiang di telinga, yaitu Ahmad Dhani.

Ya, sisi musikalitasnya tak bisa dipungkiri lagi. Dengan berbagai jenis musik yang sudah terbiasa di dengarnya, dipadu dengan kesukaannya terhadap dunia sufi terutama Jalaluddin Rumi dan Al Ghazali menjadikannya sosok musisi yang komplet dalam menciptakan lagu. Musik yang bagus dan lirik yang filosofis banyak menghiasi lagu-lagu yang diciptakannya, baik ketika bersama band-band yang saya sebut di awal maupun dengan proyek solonya bersama Ahmad Band. Apalagi ketika dia bekerja sama dengan Bebby Romeo.

Musik dan lirik ciptaan Ahmad Dhani telah ikut mewarnai perjalanan yang saya lewati. Baik di saat saya jatuh cinta maupun sedang bersedih hati.

Saya pernah menghadiahkan sebuah kaset album Dewa 19 kepada seorang gadis yang saya sukai, ketika itu saya masih kuliah. Di album tersebut ada lagu-lagu seperti Risalah Hati, dan beberapa lainnya.

Benar, semakin ke sini lirik yang diciptakan Ahmad Dhani semakin tidak begitu berat saya rasakan, tapi bagaimanapun musiknya telah ikut menemani perjalanan saya.

Bagaimana dengan anda?

10.5.16

Slank

Siapa yang tidak mengenal Slank, band rock papan atas negeri ini yang bermarkas di gang potlot?

Generasi 90an pasti mengenal dan hapal dengan lagu-lagu seperti Maafkan, Memang, Kampungan, Pulau Biru, Terlalu Manis, Kamu Harus Pulang, dan banyak lagi lagu hits dari Slank.

Saya masih sekolah di SMA kala Slank merilis album pertamanya yang berisi lagu Memang, Gadis Sexy, Terserah dan Maafkan.  Waktu itu harga kaset tidak semahal sekarang, masih dibawah Rp. 10.000,-

Gara-gara beli kaset itu, saya pernah hampir berantem dengan teman sekelas. Ceritanya, saya bawa kaset itu ke sekolahan, terus teman-teman berebut ingin memegang dan melihat cover albumnya. Terjadilah tarik menarik antara beberapa orang. Yang jadi korban adalah cover kaset tersebut, menjadi robek di beberapa bagian. 

Spontan saya akan marah kepada mereka semua, tapi saya tahan. Akhirnya saya rekatkan kembali bagian-bagian yang robek tersebut dengan menggunakan selotip. Huh, betapa kecewanya saya saat itu!

Sampai dengan sekarang saya masih mengikuti perjalanan karir Slank. Tapi ternyata hati saya tidak bisa berbohong. Puncak kegairahan saya terhadap Slank hanya sampai di album Minoritas. Kenapa? 

Karena setelah itu terjadi perpecahan di tubuh Slank. Bongky, Indra dan Pay  keluar (atau dikeluarkan?) dari Slank dan membentuk band BIP. Bimbim dan Kaka, personil yang tersisa lantas bergonta-ganti formasi sampai akhirnya bertahan di formasi yang sekarang, yaitu ditambah Abdee, Ridho dan  Ivanka.

Namun bagi saya, Slank tetaplah Bimbim, Kaka, Bongky, Indra dan Pay. Selain itu? Entah band apa namanya.

4.5.16

Jim Morrison & The Doors

Siapa yang tidak kenal The Doors? Siapa yang tidak kenal Jim Morrison? Sering saya dapati di tayangan film televisi sering ada poster Jim Morrison dengan pose klasiknya -telanjang dada, tangan terentang, seperti Jesus- terpajang di dinding kamar tokoh utamanya yang seorang remaja.

Dari membaca tulisan yang berisi wawancara dengan beberapa vokalis band di sebuah majalah musik, saya menjadi penasaran dengan siapa sebenarnya Jim Morrison itu. Karena dari beberapa vokalis yang diwawancarai tersebut menjadikan Jim Morrison menjadi panutan dan sumber inspirasi kepada mereka. Siapa vokalis yang diwawancara tersebut? Di antaranya adalah Eddie Vedder (Pearl Jam), Scott Weiland (Stone Temple Pilots), Tony Viali (Bunga Band).

Lalu saya mencari segala informasi soal Jim Morison dari berbagai sumber. Majalah, koran, dan internet. Setelah informasi terkumpul kemudian saya tahu bahwa Jim Morrison adalah vokalis dari sebuah band Psychedelic Rock bernama The Doors.

Mulailah saya berburu segala yang berbau The Doors atau Jim Morrison, dari kaset, vcd, dvd, cd, kaos dan buku biografi Jim Morrison. Saya juga membaca lirik lagu-lagu The Doors serta puisi-puisi tulisan Jim Morrison.

Pertama kali saya beli kaset The Doors, adalah sebuah album yang berisi lagu-lagu hits dari The Doors, antara lain adalah Light My Fire, Riders On The Storm, Roadhouse Blues dan beberapa lagu hits lainnya.

Jujur, ketika saya memutar kaset itu pertama kali, belum sampai setengah album kepala saya sudah pusing mendengar musik The Doors. Entah karena apa.

Sejenak saya berhenti mendengarkan musik The Doors, sampai suatu ketika saya menemukan mood yang pas untuk mendengarkannya kembali. Barulah kemudian saya dapat menikmati musik The Doors.

Apa lagu favorit saya? Riders On The Storm, Crystal Ship, Roadhouse Blues dan Love Street.

Apakah anda mengenal The Doors? Jim Morrison?