1.11.26

Memori Baik Gila-Gilaan

 


 

"Gila-gilaan bersama teman-teman

  Gila-gilaan di akhir pekan

  Gila-gilaan sambil jalan-jalan"

  ~Gila-gilaan. The Changcuters.


Sabtu malam, 31 Oktober 2026 menjadi malam yang diisi dengan hangout bersama istri, anak lanang dan adik perempuanku beserta suaminya.


Di Lanumad Ahmad Yani Semarang, kami berangkat menonton Liveproject 2026. Meski sebelum berangkat pikiran sempat diganggu dengan ungkapan kekecewaan para penonton acara yang sama di tahun sebelumnya yang bersliweran di media sosial. Tapi hasrat untuk melihat langsung band yang menemani masa muda saya dan istri tidak menyurutkan niat untuk hadir.


Sesampai di venue, sudah ada penampilan yang terlewat yaitu dari GME band asal Semarang yang banyak orang bilang lagu-lagunya setipe dengan Sheila On 7, kami pun hanya sempat mendengar 2 lagu terakhir dari Lomba Sihir, tapi dari suara yang terdengar di telinga tidak ada Bhaskara (Hindia) di sana, namun kami sempat melihat visualisasi Lomba Sihir yang menyuarakan berbagai persoalan di negara ini.

 

Kami baru bisa sepenuhnya menikmati acara mulai dari penampilan Kunto Aji meski hanya beberapa lagu yang sering saya dengar, seperti Rehat, Mercusuar, Saudade dan 2025 Masih Asik Sendiri. 


"Tenangkan hati

  Semua ini bukan salahmu

  Jangan berhenti

  Yang kau takutkan takkan terjadi"

  ~Rehat. Kunto Aji.


Setelah break Maghrib dan Isya', penampilan berikutnya adalah Mahalini. Audiens mulai antusias dan ramai. Area depan stage yang tadinya banyak ruang, berangsur mulai padat dan penuh. Banyak diantara mereka yang ikut bernyanyi dan berteriak, meski gerimis mulai sedikit datang. Penampilan Mahalini juga dihiasi dengan visualisasi yang menyuarakan kepedulian terhadap keadaan negara saat ini. Lagi-lagi saya tidak ikut bernyanyi, saya hanya bisa menikmati mendengar lagu-lagunya.


"Memori Baik"


Akhirnya jam 19.50 WIB Sheila On 7 tampil di stage. Bisa dibayangkan bagaimana suasana di crowd. Perpaduan berbagai generasi ada di lokasi. Tidak sedikit generasi yang lahir di era 70an sampai 2000an ada di situ. Sesaat sebelum MC memanggil SO7 untuk tampil, mereka menghampiri salah satu penonton yang lahir tahun 2015 yang mempunyai lagu kesukaan Pemuja Rahasia dan mengatakan kenal SO7 dari ibunya. Ternyata perjalanan band melintasi generasi bisa dilewatkan dengan cara yang sederhana. Apalagi bisa langsung merasakan langsung ritual intro lagu itu, "Kanan kanan, kiri kiri. Kanan kanan, kiri kiri" sambil menggoyangkan tangan.


Lagu-lagu dari mulai awal perjalanan SO7 sampai saat ini dikumandangkan, seperti Radio, JAP, Kita, Hari Bersamanya, Seberapa Pantas, Sephia, Pria Kesepian, Saat Lanjut Usia (medley-Anugerah Terindah), Bila Kau Tak Disampingku, Melompat Lebih Tinggi, Memori Baik, Lapang Dada, Film Favorit, Sebuah Kisah Klasik, Pemuja Rahasia, Dan hingga lagu baru berjudul Sederhana dilantukan SO7 selama kurang lebih 100 menit penampilannya. 


Setlist yang memanjakan telinga tapi menyiksa boyok dan lutut kami para remaja vintage ini. Sungguh bikin ngos-ngosan!


Sebelum SO7 mulai, saya sempat menawarkan hape saya ke istri buat merekam momen-momen, karena batre hape istri sudah habis. Dan benar, di beberapa lagu kesukaannya dia pinjam hape saya buat merekamnya.


Anak lanang saya yang lahir tahun 2010 bahkan ikut bersenang-senang dan sing along lagu-lagu SO7.  Apalagi pas lagu Melompat Lebih Tinggi, lagu yang ada di sebuah album soundtrack film yang pertama kali saya peroleh dari honor menulis puisi di sebuah buletin dan ternyata istri saya juga mengoleksi kaset pitanya, anak lanang ikut sing along dan lompat-lompat. Semoga ini bisa menjadi memori baik dan kisah klasik masa depan buatnya.


Setelah penampilan SO7 selesai, suasana diademkan dengam lagu-lagu romantis dari Afgan. Waktu Afgan tampil, jujur saja mulut kadang masih ikut melantunkan beberapa hitsnya seperti Terima Kasih Cnta dan Bukan Cinta Biasa, tapi saya dan istri memilih untuk duduk menyelonjorkan kaki dan mengistirahatkan boyok. Melihat hal ini, anak lanang berbisik dengan nada mengejek "Papah istirahat ini karena menghemat tenaga buat jingkrak-jingkrak nanti?"


Ada hal lain yang membuat saya tersenyum. Ketika istri bertanya kepada anak lanang, dari mana ia mengenal band-band Indonesia, jawabannya sederhana, 'Aku kenal band-band Indonesia dari Papah.'


Tanpa pernah merasa sedang mengajari, selama ini saya telah memperkenalkan sebagian dunia musik saya kepadanya. Dan malam itu, kami berdiri di depan panggung yang sama, menyanyikan lagu-lagu yang sama, meski datang dari generasi yang berbeda.


Liveproject 2026 ditutup oleh penampilan The Changcuters, yang ketika rundown diumumkan oleh penyelenggara dimaksudkan untuk memecah konsentrasi massa yang mungkin diperkirakan sebagian akan pulang setelah SO7 tampil. Memang di depan stage jumlah penonton sudah berkurang dibandingkan ketika SO7 tampil. Tapi tidak mengurangi antusiasme penonton.


Setlist yang dinyanyikan The Changcuters juga setlist yang bukan main menguras tenaga. Bagaimana boyok dan lutut ini digempur dengan lagu-lagu I Love U Bibeh, Suka-Suka, Gila-Gilaan, Main Serong, Parampampam hingga Hijrah Ke London, sementara yang agak selow adalah lagu baru mereka berjudul Ruang Riang, bahkan sewaktu Ruang Riang anak saya ikut sing along walaupun saya tahu kalau dia baru mendengar lagunya beberapa kali.


Penampilan The Changcuters sungguh-sungguh menarik dan memanaskan crowd dengan interaksi dari Tria sang vokalis kepada seluruh penonton, hingga anak lanang ikut jingkrak-jingkrak juga seperti bapaknya juga om dan tantenya.


Bahkan Tria sempat menanyakan apakah lutut para penonton masih baik-baik saja. Pertanyaan yang langsung terasa personal. Rupanya bukan hanya kami yang menyadari bahwa menikmati musik dengan jingkrak-jingkrak membutuhkan persiapan fisik tersendiri. Coba kalian bayangkan bagaimana bapak-bapak dengan berat badan 90 kg harus jongkok untuk kemudian melompat gila-gilaan?


Ketika Hijrah ke London dimainkan, rasanya sulit untuk tidak ikut larut. Bagaimana tidak, lagu itu memang salah satu favorit saya. Rupanya ada beberapa hal yang tidak bisa dikalahkan oleh usia, termasuk keinginan untuk jingkrak-jingkrak ketika lagu kesukaan dimainkan.


Sebagai pendengar musik sekaligus pengoleksi kaset pita, selera saya biasanya lebih banyak berkutat pada band-band era 90-an. Ketika The Changcuters hadir, kebetulan saya sedang memasuki masa vakum membeli kaset dan mengikuti perkembangan band-band baru. Sampai kemudian adik perempuan saya memperkenalkan band ini dengan perspektif yang berbeda. 


Awalnya rencana menonton konser ini hanya bertiga: saya, istri, dan anak lanang. Sampai kemudian saya mengajak adik perempuan saya. Sempat ragu ketika diajak, tetapi begitu saya menyebut The Changcuters, semangatnya langsung berubah. Rupanya ada alasan tersendiri baginya untuk datang malam itu.


Barusan saya ingat, ternyata The Changcuters pernah menjadi panutan gaya rambut adik perempuan saya di masa mudanya. []


"Terbang melayang

  Bersama lima bintang

  Bernyanyi dengan riang

  Menari dan berdendang"

  ~Ruang Riang, The Changcuters.

 


 

 

15.6.26

Mendengarkan Fstvlst dari Belakang


                  
 

Disclaimer kecil sebelum mulai: tulisan ini bukan review album. Saya tidak akan membahas struktur lagu, kualitas produksi, atau memberi penilaian angka. Ini hanya catatan seorang pendengar yang kebetulan nyasar ke Fstvlst, sempat lupa, lalu tanpa sadar ikut mengumpulkan jejak-jejak yang mereka tinggalkan.

Perkenalan saya dengan Fstvlst juga tidak istimewa. Bukan karena rekomendasi teman, bukan pula karena sengaja mencari. Mereka muncul begitu saja di linimasa YouTube. Saya iseng mendengarkan beberapa lagunya dan merasa cocok. Tapi setelah itu ya sudah. Saya lupa. Bahkan untuk beberapa waktu saya masih sering tertukar antara Fstvlst dan .Feast.

Barangkali memang ada musik yang tidak meminta kita untuk langsung jatuh cinta. Ia hanya lewat sebentar, lalu diam-diam menunggu kita kembali.

Sampai suatu waktu saya kembali mendengarkannya. Kali ini lebih serius. Dan entah kenapa, saya memutuskan membeli album II. Dari situlah semuanya berjalan mundur. Saya mulai mencari tahu siapa sebenarnya Fstvlst. Ternyata sebelum bernama Fstvlst, mereka ada keterkaitan dengan band bernama Jenny.

Sejak itu, saya seperti sedang mengurai sebuah silsilah. Saya menemukan blognya Jenny dan membacanya satu per satu, seperti membuka arsip lama. Saya preorder kaset pita Jenny. Saya membeli CD Hits Kitsch. Saya juga sempat ikut berburu kaset pita Hits Kitsch, sebelum akhirnya memilih mundur teratur karena harga yang ditawarkan sudah tidak lagi masuk akal. Terakhir saya melihat ada yang membanderolnya hingga enam juta rupiah.

Lucunya, saya tidak merasa sedang mengoleksi benda. Rasanya lebih seperti mengumpulkan potongan cerita yang tercecer di berbagai tempat. Sebab makin jauh menggali, makin terasa bahwa perjalanan Fstvlst bukanlah rangkaian album yang berdiri sendiri-sendiri. Ada semacam benang yang menghubungkan semuanya, dari masa Jenny sampai hari ini.

Karena itu, ketika album terbaru mereka dirilis terbatas dalam rangka Record Store Day 2026, saya tahu cerita lama akan berulang. Saya tidak mendapatkannya di harga rilis. Album itu akhirnya saya peroleh setelah harganya hampir dua kali lipat dari harga awal. Sebuah ironi kecil yang mungkin sudah biasa dalam dunia rilisan fisik: semakin terbatas jumlahnya, semakin mahal pula kenangan yang harus ditebus.

Yang membuat saya semakin tertarik justru bukan soal kelangkaan itu, melainkan bagaimana album terbaru ini terasa seperti mengajak pendengarnya menoleh ke belakang. Di beberapa lagu ada sampel dari karya-karya sebelumnya. Ada potongan lirik yang seperti berbicara dengan lirik di album lain. Ada kesan bahwa lagu-lagu mereka tidak pernah benar-benar selesai, melainkan saling menyambung dan membentuk percakapan yang panjang.

Mungkin karena itulah saya merasa perjalanan Fstvlst tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Jenny, seperti pergantian bab dalam novel yang sama. Beberapa tokohnya berubah, beberapa cara bertuturnya bergeser, tetapi jejak-jejak yang ditinggalkan di halaman-halaman sebelumnya tetap ada dan sesekali muncul kembali untuk menyapa pembaca yang mau membuka arsipnya.

Dan mungkin memang begitu cara saya menikmati Fstvlst. Bukan sebagai pendengar yang mengikuti semuanya sejak awal, melainkan sebagai orang yang datang belakangan, menemukan satu keping cerita, lalu berjalan mundur untuk mencari potongan-potongan yang lain. Dari YouTube yang muncul tanpa sengaja, salah mengira Fstvlst dengan .Feast, membeli II, menemukan Jenny, membaca blog lama mereka, berburu CD dan kaset pita, hingga akhirnya sampai di album terbaru ini.

Jadi sekali lagi, ini bukan review album. Ini cuma catatan kecil tentang bagaimana sebuah band, yang awalnya hanya lewat di linimasa, pelan-pelan mengubah seorang pendengarnya menjadi pencari jejak. Dan barangkali, bagi sebagian orang, itu juga salah satu cara menikmati musik: bukan sekadar mendengar apa yang dimainkan hari ini, tetapi ikut menelusuri gema yang mereka tinggalkan sejak dulu.

9.6.26

Rumah dan Selera Musik

 "Selera musikmu
Membuka kelambu telah membentuk
Oh padat telingaku."
— Kalibata 2012, Perunggu.


Barangkali selera musik memang tidak lahir begitu saja dari dalam diri. Sebelum kita merasa menemukan musik yang "gue banget", telinga kita sudah lebih dulu dipenuhi oleh suara-suara dari sekitar: dari rumah, televisi, radio, perjalanan di dalam mobil, atau dari orang-orang yang kebetulan hidup bersama kita.

Anak bungsu saya yang masih TK misalnya. Di mobil, playlist kami sering kali tidak jelas juntrungannya. Kadang Blitzkrieg Bop-nya Ramones, lalu melompat ke Yesterday Once More versi Redd Kross, lalu disambung Sayidan dari Shaggydog. Saya tidak pernah sengaja mengajarinya lagu-lagu itu. Tetapi beberapa hari kemudian, ia mulai ikut rengeng-rengeng potongan reff yang didengarnya. Tentu saja dengan pelafalan yang masih berantakan, tetapi nadanya sudah melekat.

Anak pertama saya juga kurang lebih berangkat dari hal yang sama. Beberapa waktu lalu kami menonton konser Dewa. Kalau dipikir-pikir, kedekatannya dengan lagu-lagu Dewa tidak datang secara tiba-tiba. Sejak kecil, lagu-lagu itu sudah sering terdengar di rumah, di televisi, di YouTube, atau di mobil saat kami bepergian. Lama-kelamaan, lagu-lagu itu menjadi bagian dari ingatannya. Ketika akhirnya kami berdiri bersama di tengah kerumunan penonton dan ikut menyanyikan lagu yang sama, saya merasa itu bukan sedang mengenalkan musik baru kepadanya. Kami hanya sedang mengunjungi sesuatu yang sudah lama tumbuh di dalam dirinya.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri: bukankah saya juga dibentuk dengan cara yang sama?

Waktu kecil, bapak sering memutar lagu-lagu Iwan Fals, Koes Plus, D'lloyd, The Mercy's, Bimbo, Deep Purple, sampai Queen dengan Freddie Mercury. Di lain waktu, om saya punya daftar putar yang berbeda: Ebiet G. Ade, Beegees, Carpenters, dan banyak nama lain yang waktu itu bahkan belum saya pahami. Saya tidak sedang belajar musik. Saya hanya hidup di rumah yang dipenuhi oleh musik.

Mungkin itu sebabnya saya menjadi pendengar yang tidak terlalu mempermasalahkan genre. Saya bisa menikmati lagu-lagu balada, pop, folk, musik lawas Indonesia, sampai rock. Walaupun kalau ditanya sekarang, saya mungkin lebih sering berlabuh pada musik-musik rock. Selera itu ternyata bukan dibentuk oleh satu album atau satu band, tetapi oleh begitu banyak suara yang menemani masa kecil.

Namun yang menarik, proses itu ternyata tidak berhenti pada orang tua yang mewariskan selera musik kepada anak-anaknya. Ada saat ketika anak-anak mulai menemukan dunianya sendiri, lalu gantian membentuk telinga orang tuanya.

Anak perempuan saya, misalnya, beberapa waktu terakhir sedang senang memutar K-pop di YouTube. Awalnya saya hanya mendengar sambil lalu. Sedikit demi sedikit nama-nama seperti Blackpink dan Red Velvet menjadi akrab di telinga. Sampai akhirnya saya menemukan band yang sangat saya sukai: Wave to Earth. Mungkin kalau bukan karena dia, saya tidak akan pernah mendengarkan musik mereka.

Hal yang sama juga terjadi dengan anak lanang. Dari dia saya berkenalan dengan band-band yang mungkin luput dari radar saya: Perunggu, Hindia, Reality Club, dan banyak nama lain. Mereka bukan sekadar memberi rekomendasi lagu. Tanpa sadar, mereka membuka pintu ke dunia musikal yang baru, persis seperti yang dulu dilakukan bapak dan om saya.

generated by chatgpt


Saya jadi merasa bahwa selera musik sebenarnya adalah percakapan panjang antargenerasi. Dulu, bapak mengisi telinga saya dengan Iwan Fals dan Deep Purple. Saya mengisi telinga anak-anak dengan Ramones, Dewa, atau Shaggydog. Lalu anak-anak saya, dengan caranya sendiri, memperkenalkan saya pada Perunggu, Wave to Earth, atau Reality Club. Tidak ada yang benar-benar menjadi guru atau murid. Kami hanya saling bertukar lagu.

Mungkin karena itulah saya suka tiga baris lirik Perunggu itu. "Selera musikmu... telah membentuk." Yang membentuk ternyata bukan hanya musiknya, melainkan orang-orang yang membawanya masuk ke dalam hidup kita. Bapak, om, anak-anak, teman, pasangan, bahkan perjalanan-perjalanan kecil di dalam mobil. Mereka semua, sedikit atau banyak, ikut mengisi dan memadatkan telinga kita.

Dan bisa jadi, bertahun-tahun lagi, anak bungsu saya tidak lagi ingat kapan pertama kali mendengar Blitzkrieg Bop atau Sayidan. Anak pertama saya mungkin lupa kapan lagu-lagu Dewa mulai terasa akrab. Sebagaimana saya juga tidak ingat kapan persisnya mulai menyukai Koes Plus atau Carpenters. Yang tersisa hanyalah perasaan bahwa lagu-lagu itu seperti sudah ada sejak lama, menjadi bagian dari rumah, dari keluarga, dari masa kecil.

Mungkin memang begitu cara musik bekerja. Ia tidak selalu diwariskan lewat cerita atau nasihat. Kadang cukup diputar berulang-ulang, terdengar sepintas dari ruang sebelah, atau menemani perjalanan pulang. Lalu suatu hari kita sadar, ternyata bukan hanya kita yang memilih musik. Musik—melalui orang-orang di sekitar kita—diam-diam juga ikut memilih dan membentuk kita.

1.6.26

Waktu yang Terbuang

“Padahal aku pengen nonton Barasuara,” ucap anak lanang ketika kami masih tergopoh-gopoh menuju venue Steril Fest 2026. Dari kejauhan, suara mereka datang lamat-lamat, sedang menyelesaikan Terbuang dalam Waktu.

Yang tidak saya sadari, sejak pertama kali saya memberi tahu bahwa kami akan menonton Steril Fest 2026 hingga berangkat menuju venue, anak saya tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa ia ingin menonton Barasuara.

Baru ketika kami terlambat datang ke venue, karena salah perhitungan arus lalu lintas yang ternyata macet, dia mengeluarkan unek-uneknya itu.

Apadaya, nasi sudah menjadi bubur. Saya boleh saja menyesali kebodohan sendiri yang seharusnya berangkat lebih awal, tetapi semuanya sudah terlanjur. Semoga kejadian itu membuat kami lebih menghargai waktu.

foto dari ig @steril


Beberapa hari sebelum acara berlangsung, saya sudah berusaha mempersiapkan diri dengan baik. Saya bahkan berlatih menghafalkan lirik Terbuang dalam Waktu agar nanti bisa bernyanyi bersama anak dan istri. Menurut saya, lirik lagu itu memang sangat bagus.

Ada satu momen yang masih saya ingat. Ketika sedang berusaha menghafalkan lagu itu, istri saya yang mendengar dari kejauhan spontan berkomentar, "Latihan karaoke? Biar bisa nyanyi bareng? Fals tuh suaranya."

Saya hanya tertawa. Toh tujuan saya bukan menjadi penyanyi. Saya hanya ingin ikut bernyanyi dengan orang-orang yang menyukai lagu yang sama, pada malam yang saya kira akan kami kenang bersama.

Ternyata, lagu yang paling saya persiapkan justru menjadi lagu yang tidak sempat saya dengarkan. Mungkin begitulah cara waktu mengingatkan manusia: tidak pernah menunggu siapa pun yang datang terlambat.



28.5.26

Tentang Perunggu dan Rencana Usang

Berdasarkan informasi yang beredar di dunia maya, Perunggu mulai terbentuk pada 2019 di Jakarta. Single debut mereka, “Menyala”, rilis pada November 2019. Setelah itu muncul EP Pendar (2020), lalu album penuh pertama Memorandum pada Maret 2022. 

Pada masa-masa itu adalah termasuk masa di mana saya mulai banyak unfollow akun-akun penjual kaset pita atau rilisan fisik musik di sosial media baik di Facebook maupun Instagram. Penyebabnya karena saya sedang mengaktifkan mode penghematan.

Jadi bisa dikatakan saya telat mengenal Perunggu, karena saya baru "ngeh" dengan mereka pada tahun 2025.

Saya mengenal Perunggu dari saluran Youtube yang ditonton anak lanang saya yang termasuk dalam kategori gen Z. Dia sering nyetel "33x", "Kalibata 2012" dan lagu-lagu Perunggu lainnya. 

Anehnya, saya merasa relate dengan lirik-lirik lagu Perunggu. Mungkin karena lirik-lirik mereka terdengar dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Apalagi setelah tahu -berdasarkan informasi yang beredar di dunia maya- kalau mereka ngeband sepulang dari kerja. Jadi situasinya mirip-mirip dengan saya.

Tentang Perunggu, ada juga cerita lucunya. 

Berawal dari media sosial ditambah informasi dari seorang siswa SMK yang magang di tempat kerja saya, akan ada festival musik dengan salah satu penampilnya adalah Perunggu. 

Saya langsung menyusun rencana untuk menonton festival musik tersebut dengan mengajak anak lanang. 

Tapi pada hari pelaksanaannya, malah ada acara keluarga yang berlangsung sampai sore dan malam hari. Akhirnya rencana itu gagal begitu saja.
 


Ketika mantengin media sosial setelah menonton Steril Fest 2026 di Semarang kemarin, ada informasi bahwa Perunggu akan tampil di Saint of Memorandum Tour 2026 di kota sebelah, Pati, bersana Superman Is Dead (SID).

Lagi-lagi saya berencana untuk mengajak anak lanang nonton. Tapi anak lanang komentar,"Aku sebenarnya mau-mau saja nonton. Cuma males kalau ada yang mabuk dan ribut-ribut." 

Mungkin karena ada Superman Is Dead, dia membayangkan suasananya bakal penuh penonton punk yang liar.

Jangan-jangan rencana menonton Perunggu ini memang ditakdirkan menjadi "Rencana Usang"?

24.5.26

Sal dan Cara Kita Mengingat Hal-Hal Kecil

Apa kamu pernah membayangkan ada orang yang menulis lagu dengan lirik "Ayo, ayo, ayo, besok kita pergi makan.", atau lagu yang bercerita tentang seseorang yang menggambar wajah orang lain yang di dalam ingatannya hanya sedikit yang tersimpan dan berharap orangnya gak marah karena gambarnya jelek?

Kamu akan menemukan hal-hal seperti itu di lagu-lagunya Sal, yang justru dengan hal-hal sederhana menjadikan lirik-lirik yang ditulisnya relate dengan kuping pendengarnya.

Sal di SterilFest 2026


"Aku ingin tinggal di belakang gigimu." -Sal Priadi.


Lagu cinta seperti apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Sal lewat lirik-liriknya? Kedekatan. Sal menawarkan hal-hal kecil yang dekat dengan kita, dekat dengan keseharian kita, yang mungkin tidak terlalu sering kita lihat bahkan mungkin kita abai karena "terlalu biasa". Itu yang saya rasakan. 

Di tengah konser yang riuh, lagu-lagu Sal datang bukan sebagai ledakan, melainkan seperti seseorang yang duduk di sebelahmu dan berkata pelan: “Aku tahu rasanya.”

Kemarin sewaktu nonton Steril Fest 2026 di Semarang, saya cukup dibuat terkesima dengan penampilan Sal. Hampir semua lagu yang ditampilkannya, saya ikut menyanyikannya. Lagu-lagu cinta dengan lirik yang dekat dengan keseharian saya membuat koneksi yang cukup erat antara saya dengan lagu-lagunya. 

Seperti juga Sal, saya suka menulis hal-hal di sekitar saya menjadi puisi atau cerita pendek. Bukan untuk terlihat sederhana atau semacamnya, tetapi karena memang saya merasa lebih nyaman menulis tentang sesuatu yang dekat: percakapan kecil, benda-benda sehari-hari, atau perasaan-perasaan yang sering dianggap sepele.

Mungkin karena hidup memang lebih sering hadir lewat hal-hal biasa.





21.5.26

Ketika Namamu Disebut

 

“Manusia ada terlebih dahulu, lalu membentuk makna dirinya sendiri.”
— Jean-Paul Sartre

Pada masanya, siaran radio mencapai puncak keemasan. Setiap radio memiliki acara dengan segmen pendengar masing-masing. Ada acara nostalgia yang memutar lagu-lagu lama untuk para pendengar yang ingin kembali ke masa lalu, ada juga program khusus anak-anak muda dengan musik yang lebih keras dan liar.

Radio tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga ruang pertemuan. Pendengar dapat mengirim salam, atensi, atau request lagu sebagai bentuk timbal balik antara suara di studio dan orang-orang di luar sana.

Di kisaran tahun 90-an, di kampung kami terbentuk kelompok anak-anak muda sepermainan. Kami menamainya Gangster Metallian Clans, biasa disingkat Gangster. Kampung lain juga punya kelompok serupa: ada Genk Dog dan nama-nama lain yang kini mungkin tinggal menjadi gema kecil di ingatan.

Kami sering berkumpul malam hari sambil mendengarkan Radio PST Pati, terutama acara musik rock dan metal yang mengudara sekitar dua jam setiap malamnya. Dari situlah kami mengenal banyak lagu dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada kampung kecil kami sendiri.

Karena waktu itu belum ada WA atau media sosial, kami mengirim atensi memakai kartu pos. Kami merequest lagu-lagu seperti “Ikuti” dari Edane atau “Lepas Kendali” dari Jet Liar.

Namun ternyata, yang paling kami tunggu bukan hanya lagu diputar.

Kami juga menuliskan nama kelompok kami. Lalu satu per satu nama anggota:
Genter, Payman, Mink, Bongod, Andhix, Komplong, Muis, Buto, dan Gayok.

Dan ketika penyiar menyebut nama-nama itu di udara, entah kenapa rasanya membanggakan. Bukan karena ingin terlihat hebat, tetapi karena ada rasa senang yang sulit dijelaskan—seolah keberadaan kami benar-benar diakui.

Lebih menyenangkan lagi ketika kami berjalan melewati kampung lain, lalu ada orang yang menyebut nama kelompok kami. Dari sebuah kartu pos dan gelombang radio, nama itu menjalar menjadi percakapan kecil di jalanan.

Mungkin sejak dulu manusia memang punya naluri meninggalkan jejak. Bedanya, dulu kami memakai kartu pos dan gelombang radio. Hari ini orang memakai story, komentar, dan notifikasi.

Pada akhirnya, cara manusia berubah mengikuti zaman. Tetapi keinginannya tetap sama:
ingin didengar,
ingin dikenali,
dan sesekali merasa bahwa dirinya pernah ada.

 

chatgpt

 

17.5.26

Rindu Ini Seperti Dendam yang Dibayar Lunas


Sabtu, 16 Mei 2026, saya mengajak istri dan anak lanang pergi menonton konser bertajuk Steril 2026. Line up-nya membuat saya tertarik: Fayara, Tenggara, Barasuara, Sal Priadi, Tulus, dan penampil utama Dewa 19 feat Virzha, Ari Lasso, serta Marcello Tahitoe.

Sebenarnya, keputusan membeli tiket konser ini bukan semata karena line up-nya. Ada cerita lama yang belum selesai.

Tahun lalu saya sempat membeli tiket konser Dewa 19 di Jepara. Rencana sudah disusun, antusiasme sudah dibangun, tapi acara itu gagal terlaksana karena ketidaksiapan promotor. Bahkan sampai hari ini uang tiketnya pun belum direfund. Awalnya kesal, tentu saja. Tapi lama-lama rasa kecewanya berubah jadi semacam “ya sudah”. Kadang yang lebih sulit hilang bukan uangnya, melainkan harapan yang telanjur dibangun jauh-jauh hari.

Karena itu, saat membeli tiket Steril 2026, ada sedikit rasa waswas. Jangan-jangan nanti berakhir sama seperti sebelumnya. Saya sempat mencari berbagai informasi tentang acara ini di internet, membaca komentar orang-orang, melihat dokumentasi event sebelumnya, dan mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahkan istri dan teman yang tahu cerita pada tahun lalu sempat bertanya "Kamu gak takut kejadiannya terulang? Kamu gak trauma?"

Dan untungnya, kali ini kami benar-benar sampai di konser itu. Meski begitu, perjalanan menuju venue ternyata tidak semulus bayangan. Jalan mulai padat sejak sore. Area parkir penuh. Kendaraan berjalan pelan seperti antrean yang tidak ada ujungnya. Kami datang sedikit terlambat, dan ketika berjalan dari area parkir menuju venue, suara Barasuara sudah terdengar dari kejauhan.

Sayangnya, kami hanya sempat mendengar lagu terakhir mereka, "Terbuang dalam Waktu".
Anak lanang langsung berkomentar pendek dengan nada kecewa, “Padahal aku pengen nonton Barasuara.”

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat saya merasa bersalah kecil sebagai bapak yang gagal menghitung macet dengan benar. Ya, Perjalanan yang saya kira hanya memakan waktu sekitar satu jam ternyata molor jauh dari perkiraan. 

Meski begitu, suasana konser perlahan membayar semuanya. Lampu-lampu panggung mulai terasa dekat. Orang-orang berjalan sambil bernyanyi. Ada yang duduk lesehan, ada yang sibuk merekam video, ada juga yang hanya menikmati suasana sambil membawa minuman dan tertawa bersama teman-temannya.


Penampilan Sal Priadi menjadi semacam obat dari kekecewaan kecil karena tertinggal Barasuara. Banyak lagu yang terasa familiar di telinga karena memang sering diputar saat perjalanan naik mobil bersama keluarga. Ada lagu-lagu yang awalnya terdengar biasa saja, sampai akhirnya sadar bahwa lagu itu diam-diam sudah menjadi soundtrack perjalanan pulang, perjalanan liburan, atau sekadar perjalanan mencari makan malam.

Saat Tulus tampil, jujur saja, saya cuma benar-benar hafal dua lagu: “Monokrom” dan “Hati-Hati di Jalan”. Selebihnya saya lebih banyak bengong sambil menikmati suasana. Sesekali melihat lautan manusia ikut bernyanyi bersama. Sesekali memperhatikan lampu-lampu ponsel yang menyala dari berbagai arah. Rasanya tenang, walau di tengah keramaian.


Dan puncak malam itu akhirnya datang ketika Dewa 19 naik ke atas panggung. Seolah membayar lunas hutang yang muncul tahun lalu.

Lucunya, anak lanang yang notabene Gen Z ternyata cukup hafal lagu-lagunya. Mungkin karena sejak kecil memang terbiasa mendengar lagu-lagu Dewa diputar di mobil atau dari video-video YouTube yang entah diputar ulang sudah berapa kali. 


Bernyanyi bersama istri dan anak di tengah ribuan orang asing.
Ada perasaan aneh ketika menyadari bahwa lagu-lagu yang dulu saya dengarkan sendirian, sekarang justru dinyanyikan bersama keluarga kecil saya sendiri. Seolah musik memang punya caranya sendiri untuk melampaui umur. Lagu-lagu yang dirilis jauh sebelum anak saya dilahirkan, ternyata ikut menjadi soundtrack perjalanan hidup kami.

Banyak yang belakangan mengeluhkan crowd yang terlalu padat ketika pulang, area parkir yang jauh, dan antrean kendaraan yang melelahkan. Itu semua bisa menjadi masukan buat promotor untuk acara berikutnya. Tapi buat saya pribadi, konser memang seperti itu. Capeknya justru bagian dari pengalaman. Jalan jauh menuju venue, berdesakan saat keluar area acara, suara bising, kaki pegal—semuanya terasa normal-normal saja.

Malam itu suara habis dipakai teriak. Besok paginya kaki mulai terasa pegal. Badan juga tidak seprima dulu. Usia memang tidak bisa dibohongi. Tapi anehnya, sepanjang perjalanan pulang saya tetap tersenyum sendiri. Seperti judul lagu Hadapi dengan Senyuman—walaupun malam itu tidak dibawakan.

Mungkin beberapa rindu memang harus dibayar lunas dengan cara seperti itu.




9.10.23

ShyShine Band (Cuma Latihan)

 Anggota sementara:

- Akrom, Vok∆l
- Inunk, Vok∆l
- Yudhie, Git∆r & Vok∆l (kadang B∆s)
- Chandra, Git∆r & Vok∆l (kadang B∆s)
- Hidayat, B∆s & Keybo∆rd (kadang Dr∆m)
- Irsa, Dr∆m (pernah Git∆r)

Cuma Latihan









27.7.23

Perkenalan Dengan Dream Theater

Perkenalan saya dengan Dream Theater awalnya sungguh biasa saja. Adik saya Andy yang seorang gitaris, sering memainkan lagu "Another Day" dari album Images and Words-nya Dream Theater. Jadi secara tidak langsung saya sering tanpa sengaja ikut mendengarkan, tapi masih dengan kesan biasa saja, karena menurut saya kadar popnya masih cukup banyak. Mungkin memang tidak cukup hanya dengan mendengar satu lagu saja, untuk memberi penilaian.

Baru setelah saya mendengar secara penuh satu album Dream Theater "Metropolis Pt 2: Scenes From A Memory", saya merasa terpesona dengan permainan mereka dari awal sampai akhir album. Dengan susunan lagu yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai sebuah naskah cerita, menjadi seperti sedang membaca buku atau menonton film. 

Sejak saat itulah saya mulai mencoba untuk mengoleksi kaset-kaset album Dream Theater, dari album-album sebelum Images and Words sampai setelah-setelahnya. Pencarian album dalam bentuk kaset saya lakukan di toko-toko kaset dan cd yang waktu itu masih cukup banyak, baik toko kaset baru maupun lapak-lapak kaset bekas. 

Ketika pergi ke suatu kota, saya akan dengan sengaja berjalan-jalan mencari informasi di mana ada toko atau lapak yang menjual kaset. Misal Johar, Citraland atau Buletin Musik di Semarang, atau di toko Harapan Musik dan lapak kaset bekas di pasar Legi dan depan Optik Melawai di Solo. 

Sewaktu tinggal di Solo untuk sementara waktu, saya merasakan betapa sulitnya mencari album Dream Theater yang berjudul "Awake" dengan maksud untuk menggenapi koleksi. Karena sulitnya mencari album tersebut, saya sempat merekam cd mp3 album Awake ke dalam bentuk kaset pita. Walaupun pada akhirnya saya bisa memperoleh kaset Awake di toko onlen dengan harga yang cukup lumayan, itupun butuh waktu lama, jauh sekali rentang waktu yang diperlukan hingga bisa memperolehnya.





23.7.23

Rotor : Pluit Phobia [1992]

PRIIIIIIITTTTT

Spoken:

"Selamat siang, Dik!"

"Siang, Pak"

"Bisa lihat surat-suratnya?"

"Wah… nggak bawa, Pak"

"Anda kami tilang!"


Pada tahun 1993

Polisi serasa Izrail

Saat berlaku UU LLAJR

Siapkan ratusan ribu

Bangkrut!


Langgar peraturan

Alpa surat-surat

Hanya dua pilihan

Jutaan atau penjara


Mungkin buat si kaya tak t’rasa

Mungkin rakyat makin disiplin

Tapi si miskin makin melarat

Atau aparat makin korupsi


Mereka kecewa…

Mereka protes…

Terhadap undang-undang…

Kurang pertimbangan…


Apa yang akan terjadi?

Trauma sepanjang jalan

Akan timbul penyakit baru

Bagi rakyat Indonesia…Pluitphobia


Album Behind The 8th Ball
I.R.S Gitar, Vokal
Bakar Drum
Juda Bas



Polisi Baik Hati - Slank [Lirik]

 Slank [1998]- album Mata Hati Reformasi

"Bela Diri"

Nyawa orang kini udah gak ada harganya
Crime di sini sudah semakin tinggi
Apa perlu Indonesia kaya di Texas?
Orang bebas beli pistol buat jaga diri?
Polisi datang terlambat

Daripada dibunuh, untuk bela diri
Mending tembak duluan
Daripada dibunuh, untuk bela diri
Mending kamu kutembak

Dor, dor, dor, mampuslah kau
Dor, dor, dor, mampuslah kau
Dor, dor, dor, mampuslah kau
Dor, dor, dor, mampus elo
Dor, dor, dor, mampuslah kau
Dor!
Mampus lo, mampus, mampus
Anjing


"Aktor Intelektual"

Ku ingin menangis lihat disana sini
Apa yang sedang terjadi
Rakyat terinjak
Di injak
Ini suasana ini dan keadaan ini
Memanaskan hati
Aku tersentak
Tersentak
Apa yang ku lakukan
Apa ini belum perlu
Haruskah aku diam saja
Apa juga belum perlu
Untuk kepentingan pribadi
Dan memperkaya diri
Enggak peduli
Rakyat terdesak
Didesak
Untuk membeli bahan-bahan
Yang sangat dibutuhkan
Terkunci dalam gudang
Dengan harga yang nggak kebayang
Banyak Cina melarat
Apes kena disikat
Terkadang seumat
Percaya akhirat
Nasionalisnya kuat
Kadang Cina yang nekat
Seperti konglomerat
Yang ngambil uang rakyat
Banyak bank terjerat
Dijerat
Mereka yang paling dekat
Sama oknum pejabat
Yang sering banyak nyunat
Duit haram punya rakyat
Abis diembat
Tapi selamat
Dendam lama terpendam
Sama orang keturunan
Dan semakin mengerang
Lakukan penjarahan
Bahkan perkosaan
Apa memang dendam terpendam
Cuma karena keturunan
Siapa yang cari keuntungan
Di dalam kesempitan
Awas kita cuma ditunggangi
Intelektual yang ambisi
Memancing anarki
Demi revolusi
Revolusi
Pasti kita dijejali
Dengan penuh janji-janji
Kalau itu terjadi
Rakyat juga yang dikorbani
Astaghfirullah hal adzim! Allahu Akbar
Segitu jahatnya Bangsaku, segitu dendamnya rakyatku
Kemana keramah tamahan Bangsaku, kemana perginya
Allahu Akbar
Dan ku gak sabar lagi
Akan menapakkan kaki
Untuk beraksi
Aku tergerak
Tergerak
Haruskah aku lakukan
Apa ini memang perlu
Harus aku lakukan
Karena ini memang perlu
Aku terlalu emosi
Menunggu walau sehari
Nggak bisa menahan diri
Untuk bergerak
Bergerak
Ini lingkaran setan
Harus banyak berkorban
Masuk lingkaran setan
Banyak yang jadi korban
Bergelimpangan
Darah di Ibu Pertiwi



Slank [2023]- HUT Polisi

"Polisi Yang Baik Hati" 

Polisi yang baik hati
Senyum ramah manusiawi
Pembela rakyat sejati
Suka rela mengayomi

Polisi yang baik hati
Siap siaga melindungi
Paling sigap melayani
Sepanjang malam
Sepanjang hari

Polisi yang baik hati
Sahabat yang dicintai
Teman yang menyemangati
Kehadiranmu slalu dinanti
Polisi yang baik hati
Senyum ramah manusiawi
Pembela rakyat sejati
Suka rela mengayomi

Polisi yang baik hati
Siap siaga melindungi
Paling sigap melayani
Sepanjang malam
Sepanjang hari

Polisi yang baik hati
Sahabat yang dicintai
Teman yang menyemangati
Kehadiranmu slalu dinanti

11.7.23

Foto: Corned Beef [1993-1996]

 

Corned Beef Band:
- Rahmat Yunanto, Vokal
- Slamet Widodo, Bas & Vokal
- Widyar Ali Wiharsanto, Dr∆m
- Yudhie Yarcho, Gitar & Vokal

Additional Player:
- Koko, Gitar
- R. Widiatmoko, Gitar






26.6.23

Edane: Jabrik (Big Town)


Album kedua Edane dengan cover warna hitam, musiknya masih serupa dengan album pertama mereka dimana distorsi gitar begitu dominan dengan riff-riff yang padat. Di album ini posisi vokal berganti dari Ecky Lamoh ke Heri "Ucok" Batara. Teriakan Ucok memang tidak semelengking Ecky, tapi itu tidak mengurangi daya ledak album ini.

Berisi 12 track lagu dengan total durasi kurang lebih sekitar 50 menit, dengan 7 lagu diantaranya berbahasa inggris dan 2 lagu instrumental. Album dibuka dengan pekikan gitar pada lagu berjudul "Wake of The Storm". 

Favorit saya di album ini adalah lagu berbahasa inggris berjudul "Jungle Beat", di mana bagian yang paling saya sukai adalah riff gitarnya yang tanpa sadar membuat saya manggut-manggut setiap kali memutar lagu ini, baik di aplikasi layanan pemutar musik digital maupun kaset pita yang saya putar menggunakan tape recorder.

Lagu lain yang saya suka adalah sebuah balada berjudul "Victim of The Strife" yang juga sering saya rengeng-rengengkan atau cover melalui aplikasi Smule di android.

Bagian refrain Victim of The Strife:

Do you hear they are cryin 
such a lonely life
Not fit for a child 

Look into their eyes are shinin'
they're never tell a lie
Just keep the light a live

Album ini juga memuat satu nomor instrumental permainan bas dari Iwan Xaverius berjudul I.X.S yang tak mau kalah dengan sang gitaris Eet Sjahranie dengan instrumentalnya berjudul Kurusetra.

Secara keseluruhan, menurut saya album ini tidak kalah dengan album debut mereka sebelumnya. Bahkan makin menegaskan bentuk dan warna musik yang dipilih Edane.

***

Edane:

Eet Sjahranie    Gitar, Backing Vocal
Iwan Xaverius  Bas, Backing Vocal
Fajar Satritama Drum, Backing Vocal
Heri Batara       Vokal

List Lagu:

1. Wake of The Storm
2. Jungle Beat
3. Jabrik (Big Town)
4. Victim of The Strife
5. Call Me Wild
6. Pancaroba
7. Kharisma
8. Way Down
9. I.X.S
10. Alam Manusia
11. Burn It Down
12. Kurusetra

25.3.23

Rotor: New Blood [1997]



Album yang dirilis tahun 1997 ini sungguh beda dengan pendahulunya (Behind The 8th Balls dan Eleven Keys), karena Rotor bereksperimen dengan memasukkan unsur drum menggunakan programming. Jadi jika didengarkan, album ini bernuansa industrial. Tapi meski demikian, sayatan gitar I.R.S masih tetap ada dan menjadi warna dari band Rotor.

Berisi delapan lagu yang sebagian besar berlirik bahasa Inggris dan hanya satu yang menggunakan bahasa Indonesia di lagu yang berjudul Nadya. Hentakan musik yang disuguhkan Rotor di album ini membuat manggut-manggut kepala yang mendengarkannya, akan tetapi bagi yang tidak biasa atau belum pernah mendengarkan album-album Rotor sebelumnya mungkin akan sedikit mengernyitkan dahi dan lalu berpikir: "Ini musik apaan?!"

Selain musiknya yang terdengar beda, lirik lagu Nadya pun bisa membuat tersenyum. Album New Blood ini menampilkan foto-foto masa kecil para personelnya pada cover album tersebut.


Nadya
Music & Lyric by I.R.S

Malas kami mikir
Biar gini aja
Pening kali pun kepala
Biar gini aja
Habis pula ide kami
Biar gini aja
Banyak kali pun persoalan
Biar gini aja
Lagu nggak komersil
Biar gini aja
Musik pun susah dijual
Biar gini aja
Idealisme harus jalan
Biar gini aja
Tapi kami harus kaya
Biar gini aja


Biar gini aja (4x)


Rotor Band line-up:
I.R.S Guitars, Vocals, Drum Programming
B.B   Drums
J.P   Bass

Songlist:
1. My Name Is Santet
2. Dead In Sleep
3. Javanese Liqueur II
4. Y-Rail Blue
5. Regret
6. Mind Changes World
7. Javanese Liqueur I
8. Nadya

Tentang album Eleven Keys, silakan kunjungi : Rotor: Eleven Keys [1995]
Tentang kepergian IRS, bisa dikunjungi di : RIP:IRS


21.2.21

RIP : IRS

(Rest In Peace : Irvan Rotor Sembiring) 


Pagi ini 16 Februari 2021, timeline akun facebook saya dipenuhi postingan dari mereka yang ada di friendlist saya. Isinya semua sama. Ungkapan duka cita mendalam atas kepergian bang Irfan Sembiring, dedengkot Rotor band thrash metal Indonesia yang pernah menjadi pembuka konser Metallica di Indonesia pada tahun 1993.

Berita yang sangat mengagetkan, karena tidak ada yang menduga akan kepergiannya. Saya sering berinteraksi pada postingannya, entah itu berupa sumbangan jempol atau komentar. Terakhir postingan IRS yang sempat saya lihat adalah dia menguplod fotonya dengan caption "latihan senyum".

Bahkan beberapa waktu sebelumnya, IRS sempat mengupdet info akan membuat proyek baru bersama Bakkar (drummer Rotor) dan Makki (bassist Ungu), setelah sebelumnya melaunching album fenomenal Rotor 'Behind The 8th Balls' dalam bentuk vinyl. IRS juga berencana menerbitkan buku berisi sejarah perjalanan Rotor band, setelah sebelumnya sempat membuat tulisan berseri tentang hal itu. Terakhir, Rabonsick Records akan merilis ulang album Win yang dulunya hanya beredar di Amerika Serikat. 


***

Ingatan saya kembali ketika saya masih SMA. Suatu hari saya kumpul-kumpul sama teman setongkrongan di depan rumah. Saya keluarkan tape compo, kemudian saya setel album Behind The 8th Balls kencang-kencang. Teman-teman langsung antusias mendengarkan, dan berkomentar "Ini baru namanya metal!!"

Apalagi ketika tiba pada lagu Pluit Phobia dan Gatholoco. Dua buah lagu dengan nada yang sama tapi dengan lirik yang berbeda. Gilaaakk!! 

Musik yang sungguh menarik minat saya karena belum pernah mendengar musik seperti itu sebelumnya, jadilah tiap kali request di sebuah acara yang memutar lagu-lagu rock dan metal di sebuah radio, lagunya Rotor menjadi lagu yang wajib kami request untuk dapat diputar, selain lagunya Jet Liar dan Edane. 

Semenjak itu saya menjadi begitu ngefans dengan Rotor, saya koleksi album-album kaset pita mereka. Mulai dari album pertama, Behind The 8th Balls, Eleven Keys, New Blood sampai Menang. Bahkan album-album yang dirilis ulang pun saya koleksi. 

Kini saya sedang harap-harap cemas menunggu kelanjutan rencana penerbitan buku sejarah Rotor dan Suckerhead, yang infonya sudah dibahas dengan salah satu penerbit indie di Jogja sebelum meninggalnya bang IRS. Semoga tetap lanjut, agar catatan sejarah itu tidak hilang begitu saja. 

***

Kembali ke diri bang IRS, setelah Rotor vakum dia memilih jalan menuju ke pertaubatan. Bukan hijrah, tapi masih pada tahapan menuju hijrah, seperti yang disampaikannya di beberapa kanal Youtube. 

Kini Allah memanggilnya, semoga jalan yang ditempuh memberikan kedamaian dan ketenangan, diterima segala amal dan ibadahnya serta diampuni segalan kekhilafannya. 

Duka terdalam, sampai jumpa. 🤘



20.1.21

Foto: Tupas Band dan Setelahnya [1994-2006]

 1. Icon Tugu Payung


2. Tupas Band
     - Alex, Dr∆m
     - Andhi, Gitar & Vokal
     - Bercho, Gitar & Vokal
     - Peddex, Bas

     ex Member:
     - Hook (alm.), Gitar Akustik, Vokal
     - Dilla, Vokal

     Additional Player:
     - Weppy, Dr∆m
     - Ari, Bas


Bercho

Andhi

Peddex

Alex alias Kecik

BR Studio Sulang

Risma (Sumber Manfaat Band) & Andhi (Tupas)




3. Tupas Band feat. Tongky (on Vokal)


Tongky


4. Sumber Manfaat Band (Jamming Band)
    - Angga, Dr∆m
    - Dwi, Bas
    - Bercho, Gitar & Vokal
    - Risma, Gitar & Vokal
    - Adyk, Vokal